Pages

Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Februari 2015

travelmtae-ku :)

Teruntuk, travelmate-ku.

Kemarin, kita mendaki gunung merbabu bersama. Perjalanan mendaki kita untuk pertama kalinya. Rasanya sungguh lelah, tetapi juga menyenangkan. Aku gak tau gimana nasibku jika gak ada kamu bersamaku.

Kamu selalu ada di sisiku, gak pernah ninggalin aku. memegang tanganku ketika aku nyaris terjatuh, menarikku ketika aku tak kuat menanjak, bahkan memijat kakiku ketika mulai terasa sakit. kamu dengan sangat sabar menuntunku dari bawah hingga ke atas.

Meski awalnya aku ingin menyerah, meski seringkali kita berhenti untuk beristirahat, namun kamu tetap menyemangatiku, berusaha menguatkanku, meyakinkanku, bahwa akan ada sesuatu hal yang indah setelah semua perjuangan ini.

Di saat semua orang meninggalkan kita, kamu tetap berada di sisiku dan tak memiliki keinginan untuk meninggalkanku. Kita jalani semua berdua.

Kuharap, kamu tetap menjadi orang yang seperti itu di hidupku. Karena dengan kamu yang berada di sisiku dan menggenggam tanganku, aku tidak takut untuk melawan dunia.


I Love You, sayang. :)Bottom of Form

Rabu, 19 Februari 2014

Berdirilah Sayang!

Sayang, jangan terlalu lama terpuruk seperti itu. Itu tidak baik. Hapuslah air mata yang mengalir di lekuk wajahmu itu, tersenyumlah sayang, dunia belum berakhir. Berdirilah, lanjutkanlah langkahmu yang terhenti. Aku tetap ada bersamamu.

Hilangkanlah segala hal yang mengganggu pikiranmu, yang menggerogoti hatimu dalam sepi yang kau nikmati. Tak semua hal cukup berharga untuk kau pikirkan. Bangunlah, beranjaklah dari keterpurukanmu. Aku masih di sini mencintaimu.

Selasa, 18 Februari 2014

Maukah Kau?

Jogja sedang dipenuhi debu sekarang. Meskipun sudah banyak yang dibersihkan, namun sisa-sisanya pun masih membekas. Jika berkendara ke sekolah aja mesti pakai masker, oh alangkah ribetnya.

Kala itu ketika berangkat sekolah aku melihat toyota agya, sepertinya menyenangkan ya bisa menikmati Jogja sambil berkeliling naik agya, tidak seperti aku waktu itu, lusuh kena abu vulkanik gegara naik motor.

Minggu, 16 Februari 2014

Apa Kau Tidak Lelah?

Ada sedikit ganjal di hatiku, tentang sikapmu menghadapiku. Apa sebenarnya yang kau pikirkan? Aku rasa, tak ada lagi yang bisa dipertahankan antara kau dan aku. Mengapa kau begitu keras kepala?


Coba dilihat lagi perjalanan kisah kita dari awal hingga sekarang. Hanya penuh dengan percecokan, air mata. Apa kamu tidak lelah? Tidak? Lalu, sampai kapan kamu bisa bertahan sayang?

Sabtu, 15 Februari 2014

Kamu

Kamu, selaksa matahari. Selalu hadir setiap hari, menghangatkan. Meski tak selalu ada di sisiku, aku tahu bahwa kamu selalu ada di sana. Di tempat seharusnya kamu berada, di hatiku. Di mimpiku.
Kamu bukan pelangi, yang indahnya selalu kunanti, tapi justru kamulah pencipta pelangi itu, kamu sumber kebahagiaanku, sumber keindahan yang takkan pernah berhenti untuk kukagumi.

Kamis, 13 Februari 2014

Lupa, tapi Tak Lupa

Kamu, yang selalu menjadi sumber api semangatku, yang terucap dari mulut semua orang betapa aku sangat menyerupai sosokmu. Meski sosokmu pun tak pernah ada di setiap aku membuka mata. Meski dirimu tak pernah hadir di kala hatiku dilanda getir. Tapi, engkau menyayangiku kan? Takdir kadang memang menjadi pemutus hadir yang membuat kita tak bisa memberontak terhadapnya.


Ketika aku terjatuh, hatiku berteriak bahwa aku butuh pelukmu, aku butuh kata-katamu sebagai pereda sakitku. Tapi, bukan engkau yang hadir, tapi bulir air mata yang memaki takdir bahwa kamu tak akan pernah bisa hadir. Yang kadang membuatku bertanya-tanya, mengapa? Mengapa bukan aku saja yang tersingkir? Hidup seperti pisau, yang membuat hatiku tersayat pedih, dan tak ada sosok yang membuatku tetap kuat, tak ada kasih sayang yang terlampir dalam setiap getir.

Rabu, 12 Februari 2014

Pecinta Terbaik, Kau

Tempatku mencari muara ketenangan di kala raga dan jiwa tak sanggup lagi untuk bertahan. Terkadang hidup memang begitu kejamnya sehingga kadang aku menjadi jatuh terseok-seok. Tapi, aku selalu percaya ada tempat di mana aku bisa berkeluh kesah, meraung-raung sesukaku dan menangis sejadi-jadinya tanpa perlu kelihatan lemah di mata orang lain.


Ah, mungkin aku memang sering menjadi sosok yang tak tahu diri. Bagaimana mungkin, aku menyalahkan keadaan yang menyesakkan tanpa pernah aku melihat diriku sendiri. Datang hanya ketika kesedihan melanda diri. Mungkin jika aku yang diperlakukan seperti itu, aku akan marah sejadi-jadinya, dan takkan ada lagi cinta di dada. Ya, karena memang aku tak sempurna. Bagaimana bisa aku menyalahkanMu, jika aku saja tak sempat meluangkan waktuku untukMu. Aku memang tidak tahu diri, Tuhan.
 
;