Pages

Minggu, 16 Februari 2014

Apa Kau Tidak Lelah?

Ada sedikit ganjal di hatiku, tentang sikapmu menghadapiku. Apa sebenarnya yang kau pikirkan? Aku rasa, tak ada lagi yang bisa dipertahankan antara kau dan aku. Mengapa kau begitu keras kepala?


Coba dilihat lagi perjalanan kisah kita dari awal hingga sekarang. Hanya penuh dengan percecokan, air mata. Apa kamu tidak lelah? Tidak? Lalu, sampai kapan kamu bisa bertahan sayang?

Ingat pertemuan terakhir kita? Aku membanting pintu, menyuruh kamu segera pergi dari rumahku. Kamu, yang awalnya tertawa-tawa, kemudian terdiam dan segera beranjak pulang. Tapi, aku menahanmu. Mungkin aku keterlaluan, hingga kamu menangis terisak-isak. Lalu, aku minta maaf.

Sayang, apa kau tidak lelah menangis?

Aku lelah sayang, aku lelah menghadapi diriku sendiri. Logika dan hatiku tak pernah berjalan dengan baik ketika aku di dekatmu. Sehingga tingkahku selalu kekanakan jika menghadapimu.

Dan kamu, tak pernah bisa mengerti aku yang seperti itu...

Biarkan aku pergi sayang, sampai kapan kamu mau menahanku? Tidak perlu takut sendiri, aku yakin masih banyak yang menyayangimu, merindukan kehadiranmu yang kerap hilang karena waktu yang kau berikan untukku.

Mungkin, aku memang belum siap untuk jatuh cinta lagi. Menghadapi betapa perihnya hati karena  cinta yang mungkin saja tak akan abadi. Menatap kenyataan yang-entah kenapa-selalu berjalan tak sesuai keinginan.

Maaf sayang, aku tidak pantas menjadi pendampingmu. Kita tak bisa saling memahami. Biarkan hati beristirahat dari rasa kecewa yang menyakiti.

Tertanda,
Perempuan yang sering membuatmu menangis.


Kita, mungkin adalah sebuah kata yang tak akan pernah menjadi nyata.

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapanmu :)

 
;