Ada sedikit ganjal
di hatiku, tentang sikapmu menghadapiku. Apa sebenarnya yang kau pikirkan? Aku
rasa, tak ada lagi yang bisa dipertahankan antara kau dan aku. Mengapa kau
begitu keras kepala?
Coba dilihat
lagi perjalanan kisah kita dari awal hingga sekarang. Hanya penuh dengan
percecokan, air mata. Apa kamu tidak lelah? Tidak? Lalu, sampai kapan kamu bisa
bertahan sayang?
Ingat
pertemuan terakhir kita? Aku membanting pintu, menyuruh kamu segera pergi dari
rumahku. Kamu, yang awalnya tertawa-tawa, kemudian terdiam dan segera beranjak
pulang. Tapi, aku menahanmu. Mungkin aku keterlaluan, hingga kamu menangis
terisak-isak. Lalu, aku minta maaf.
Sayang, apa
kau tidak lelah menangis?
Aku lelah
sayang, aku lelah menghadapi diriku sendiri. Logika dan hatiku tak pernah berjalan
dengan baik ketika aku di dekatmu. Sehingga tingkahku selalu kekanakan jika
menghadapimu.
Dan kamu,
tak pernah bisa mengerti aku yang seperti itu...
Biarkan aku
pergi sayang, sampai kapan kamu mau menahanku? Tidak perlu takut sendiri, aku
yakin masih banyak yang menyayangimu, merindukan kehadiranmu yang kerap hilang karena
waktu yang kau berikan untukku.
Mungkin, aku
memang belum siap untuk jatuh cinta lagi. Menghadapi betapa perihnya hati
karena cinta yang mungkin saja tak akan
abadi. Menatap kenyataan yang-entah kenapa-selalu berjalan tak sesuai
keinginan.
Maaf sayang,
aku tidak pantas menjadi pendampingmu. Kita tak bisa saling memahami. Biarkan
hati beristirahat dari rasa kecewa yang menyakiti.
Tertanda,

0 komentar:
Posting Komentar
Berikan tanggapanmu :)