Kamu,
yang selalu menjadi sumber api semangatku, yang terucap dari mulut semua orang
betapa aku sangat menyerupai sosokmu. Meski sosokmu pun tak pernah ada di
setiap aku membuka mata. Meski dirimu tak pernah hadir di kala hatiku dilanda
getir. Tapi, engkau menyayangiku kan? Takdir kadang memang menjadi pemutus
hadir yang membuat kita tak bisa memberontak terhadapnya.
Ketika
aku terjatuh, hatiku berteriak bahwa aku butuh pelukmu, aku butuh kata-katamu
sebagai pereda sakitku. Tapi, bukan engkau yang hadir, tapi bulir air mata yang
memaki takdir bahwa kamu tak akan pernah bisa hadir. Yang kadang membuatku
bertanya-tanya, mengapa? Mengapa bukan aku saja yang tersingkir? Hidup seperti
pisau, yang membuat hatiku tersayat pedih, dan tak ada sosok yang membuatku
tetap kuat, tak ada kasih sayang yang terlampir dalam setiap getir.
15
tahun tanpamu itu bukanlah suatu hal yang mudah, namun keyakinanku akan kasihmu
membuatku pantang untuk menyerah. Hingga kini, aku di sini, mencoba untuk bisa
berdiri sendiri. Mencoba menggapai asa, demi kata bahagia untuk mereka yang
senyumnya menjadi bahagiaku, untuk mereka para pereda luka. Kau juga pasti akan
bahagia di sana kan, Ibu?
Maafkan
aku, jika air mataku terkadang masih terjatuh karenamu. Maafkan aku, jika aku
tak sering berkunjung ke rumah kecilmu. Namun, dalam setiap kesempatan kan
selalu kurapal doa dari bibirku sebagai penerang dalam rumahmu.
Kita
yang hanya sementara, tapi sampai kapanpun takkan pernah terlupa. Aku memang
tak pernah ingat garis-garis yang membentuk wajah cantikmu, tapi kisahku dan
kamu yang terlontar dari mulut-mulut mereka, takkan pernah membuatku melupa
bahwa kamu pernah ada. Karena engkau ada, maka aku ada. Karena kita sempat
mempunyai kisah, walau mungkin kisah kita tak sesempurna kisah mereka, yang usianya
lebih lama melebihi kita. 3 tahun bersamamu itu sangat berharga, meskipun
selama 3 tahun itu pun kita juga jarang menghabiskan waktu bersama. :’)
Ibu,
suatu saat nanti, aku akan jadi orang sukses, dan aku akan datang ke rumah
kecilmu, dan berkata lantang, “Ibu, aku bisa lebih pintar darimu..” Aku akan
membuktikan kepadamu dan kepada mereka yang sering membandingkan aku, bahwa aku
juga bisa berdiri sendiri tanpamu. Aku bisa berprestasi..
Bu,
izinkan aku untuk bersatu dengan seseorang yang pernah kuajak ke rumahmu ya,
dia orang yang baik. Mungkin dia bisa menjagaku, ya?
Aku
sayang kamu bu, titip salam buat adik-adik yang belum sempat melihat indahnya
dunia ya..
Dari,
Anakmu
yang sering dilanda sepi.
2 komentar:
Ibu kamu pasti salah satu malaikat yang kini menjaga kamu, dia gak jauh kok :') jangan lama-lama ya sedihnyaa :"(
*pelukin*
-ika, tukangpos
@kak ika : ah iya kak, terimakasih :')
Posting Komentar
Berikan tanggapanmu :)