Pages

Kamis, 13 Februari 2014

Lupa, tapi Tak Lupa

Kamu, yang selalu menjadi sumber api semangatku, yang terucap dari mulut semua orang betapa aku sangat menyerupai sosokmu. Meski sosokmu pun tak pernah ada di setiap aku membuka mata. Meski dirimu tak pernah hadir di kala hatiku dilanda getir. Tapi, engkau menyayangiku kan? Takdir kadang memang menjadi pemutus hadir yang membuat kita tak bisa memberontak terhadapnya.


Ketika aku terjatuh, hatiku berteriak bahwa aku butuh pelukmu, aku butuh kata-katamu sebagai pereda sakitku. Tapi, bukan engkau yang hadir, tapi bulir air mata yang memaki takdir bahwa kamu tak akan pernah bisa hadir. Yang kadang membuatku bertanya-tanya, mengapa? Mengapa bukan aku saja yang tersingkir? Hidup seperti pisau, yang membuat hatiku tersayat pedih, dan tak ada sosok yang membuatku tetap kuat, tak ada kasih sayang yang terlampir dalam setiap getir.

15 tahun tanpamu itu bukanlah suatu hal yang mudah, namun keyakinanku akan kasihmu membuatku pantang untuk menyerah. Hingga kini, aku di sini, mencoba untuk bisa berdiri sendiri. Mencoba menggapai asa, demi kata bahagia untuk mereka yang senyumnya menjadi bahagiaku, untuk mereka para pereda luka. Kau juga pasti akan bahagia di sana kan, Ibu?

Maafkan aku, jika air mataku terkadang masih terjatuh karenamu. Maafkan aku, jika aku tak sering berkunjung ke rumah kecilmu. Namun, dalam setiap kesempatan kan selalu kurapal doa dari bibirku sebagai penerang dalam rumahmu.

Kita yang hanya sementara, tapi sampai kapanpun takkan pernah terlupa. Aku memang tak pernah ingat garis-garis yang membentuk wajah cantikmu, tapi kisahku dan kamu yang terlontar dari mulut-mulut mereka, takkan pernah membuatku melupa bahwa kamu pernah ada. Karena engkau ada, maka aku ada. Karena kita sempat mempunyai kisah, walau mungkin kisah kita tak sesempurna kisah mereka, yang usianya lebih lama melebihi kita. 3 tahun bersamamu itu sangat berharga, meskipun selama 3 tahun itu pun kita juga jarang menghabiskan waktu bersama. :’)

Ibu, suatu saat nanti, aku akan jadi orang sukses, dan aku akan datang ke rumah kecilmu, dan berkata lantang, “Ibu, aku bisa lebih pintar darimu..” Aku akan membuktikan kepadamu dan kepada mereka yang sering membandingkan aku, bahwa aku juga bisa berdiri sendiri tanpamu. Aku bisa berprestasi..

Bu, izinkan aku untuk bersatu dengan seseorang yang pernah kuajak ke rumahmu ya, dia orang yang baik. Mungkin dia bisa menjagaku, ya?

Aku sayang kamu bu, titip salam buat adik-adik yang belum sempat melihat indahnya dunia ya..

Dari,
Anakmu yang sering dilanda sepi.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Ibu kamu pasti salah satu malaikat yang kini menjaga kamu, dia gak jauh kok :') jangan lama-lama ya sedihnyaa :"(
*pelukin*
-ika, tukangpos

Himeka Kiririn mengatakan...

@kak ika : ah iya kak, terimakasih :')

Posting Komentar

Berikan tanggapanmu :)

 
;