Pages

Sabtu, 10 Juni 2017

Makalah Kepemimpinan Pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kepala sekolah sebagai penanggung jawab dalam lembaga pendidikan yang dia pimpin memiliki tugas yang tidak ringan. Sebab baik buruknya lembaga tersebut tidak lepas dari pengawasan kepala sekolah.
Tentu kepala sekolah berperan penting dalam kemajuan pendidikan dalam sebuah lembaga formal. Kepala sekolah itu memiliki berbagai tugas dan fungsi, dan salah satunya adalah sebagai motivator. Dalam mendorong keberhasilan mewujudkan tujuan belajar, motivasi merupakan penentu yang sangat penting, bagaikan bensin yang dapat menggerakan mesin mobil menuju tempat tujuannya.
Karena itulah, maka dibuatlah makalah ini untuk membahas tentang motivasi lebih lanjut, beserta contoh konkrit di sebuah lembaga pendidikan formal, yaitu di SD “NL”.

B.     Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah fungsi kepala sekolah?
2. Apakah motivasi itu?
3. Apa yang dilakukan kepala sekolah dalam memotivasi siswa?







BAB II
PEMBAHASAN

A.    Fungsi Kepala Sekolah
Sesuai dengan ciri-ciri sekolah sebagai organisasi yang bersifat kompleks dan unik, tugas dan fungsi kepala sekolah seharusnya dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari sisi tertentu kepala sekolah dapat dipandang sebagai pejabat formal, sedangkan dari sisi lain kepala sekolah dapat berperan sebagai educator, manager, administrator, supervisor, leader, inovator dan motivator yang biasa disingkat EMASLIM. Ada dua buah kata kunci yang dapat dipakai sebagai landasan untu memahami lebih jauh tugas dan fungsi kepala sekolah.
Kedua kata tersebut adalah “Kepala” dan “Sekolah”. Kata kepala dapat diartikan ketua atau pemimpin dalam suatu organisasi atau sebuah lembaga. Sedangkan sekolah  adalah sebuah lembaga di mana menjadi tempat menerima dan memberi pelajaran.[1]
Dengan demikian secara sederhana kepala sekolah dapat didefinisikan sebagai seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah di mana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dengan murid yang menerima pelajaran.

B.     Pengertian Motivasi
Motif dalam bahasa inggris adalah motive berasal dari kata “motion” yang berarti gerak atau sesuatu yang bergerak.[2] Menurut Elliot (2000), motivasi adalah keadaan internal yang menyebabkan kita bertindak, mendorong kita pada arah tertentu, dan menjaga kita tetap bersemangat pada aktivitas tertentu.[3] Menurut Azwar (2000: 15), motivasi adalah rangsangan, dorongan ataupun pembangkit tenaga yang dimiliki seseorang atau sekolompok masyarakat yang mau berbuat dan bekerjasama secara optimal dalam melaksanakan sesuatu yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Motivasi secara umum sering diartikan sebagai sesuatu yang ada pada diri seseorang yang dapat mendorong, mengaktifkan, menggerakkan dan mengarahkan perilaku seseorang. Dengan kata lain motivasi itu ada dalam diri seseorang dalam wujud niat, harapan, keinginan dan tujuan yang ingin dicapai.
Pada dasarnya, motivasi ada dua jenis, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Motivasi ekstrinsik timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.[4]

C.    Bentuk-Bentuk Motivasi di Sekolah
Dalam kegiatan belajar-mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi, peserta didik dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar.
Ada berbagai cara menumbuhkan motivasi kepada peserta didik. Beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah antara lain sebagai berikut:
1.      Memberi angka
2.      Hadiah
3.      Saingan/kompetisi
4.      Ego-involvement
5.      Memberi ulangan
6.      Mengetahui hasil
7.      Pujian
8.      Hukuman
9.      dll[5]

D.    Hal-Hal yang Dilakukan Kepala Sekolah SD “NL”
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan kepada Kepala Sekolah SD “NL”, maka didapatlah data tentang apa yang dilakukan Kepala Sekolah dalam memotivasi siswa. Berikut adalah data hasil wawancara:
1.      Memberikan kepercayaan,
2.      Memberikan reward/hadiah,
3.      Mengadakan suatu program untuk mengevaluasi.
4.      Menciptakan suasana yang nyaman.
5.      Memberi dukungan secara rutin, biasanya di apel siap siaga setiap hari Rabu dan upacara bendera.
6.      Pada pagi hari, setiap guru dibagi piket bersama di depan sekolah untuk menyalami siswa yang baru masuk, kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan guru dan siswa.
7.      Apabila ada anak yang bermasalah maka akan diperingatkan secara halus, disentuh hatinya, disentuh perasaannya. Membuat kenyamanan di hati para siswa.
Dari semua hal di atas, sebenarnya bisa diambil kesimpulan bahwa yang terpenting itu adalah menciptakan rasa nyaman. Sehingga siswa pun bisa berpikiran positif dan lebih percaya diri.






BAB III
KESIMPULAN

Kepala sekolah merupakan seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah di mana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dengan murid yang menerima pelajaran. Kepala sekolah juga berfungsi sebagai motivator.
Dalam menjadi motivator tersebut, kepala sekolah selalu memiliki banyak cara. Beberapa cara yang dilakukannya pun sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Mc. Donald. Tapi tentu saja, dalam prakteknya tidak harus selalu berpacu terhadap teori, banyak cara lain yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam memotivasi para siswanya.
Dari berbagai cara tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa yang perlu dilakukan dalam memotivasi adalah menciptakan suatu situasi yang kondusif, aman, dan nyaman. Membuat semua orang selalu berpikiran positif untuk melakukan hal-hal yang tentu juga positif.














DAFTAR PUSTAKA

Departemen  Pendidikan  dan  Kebudayaan. 1988. Kamus  Besar  bahasa  Indonesia (Jakarta: Perum Balai Pustaka)
Nursalam. Ferry Efendi. 2008. Pendidikan Dalam Keperawatan. (Salemba:Salemba Medika)
Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada)
Sunaryo. 2002. Psikologi. (Jakarta: EGC)
Suryanto, Asep Jahid. 2013. Menjadi Guru Profesional. (Jakarta:Esensi)


[1] Departemen  Pendidikan  dan  Kebudayaan,  Kamus  Besar  bahasa  Indonesia (Jakarta; Perum Balai Pustaka, 1988) hh. 420, 796.
[2] Sunaryo, Psikologi (Jakarta: EGC, 2002) hlm.135
[3] Nursalam. Ferry Efendi, Pendidikan Dalam Keperawatan, (Salemba:Salemba Medika,2008) hlm.14
[4] Suryanto, Asep Jahid, Menjadi Guru Profesional, (Jakarta:Esensi,2013) hlm.61
[5] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar, ( Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2011)

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapanmu :)

 
;