Pages

Tampilkan postingan dengan label Tugas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Oktober 2017

Makalah : Multikulturalisme



MAKALAH PENGANTAR STUDI ISLAM
MULTIKULTURALISME
Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas




Disusun Oleh :
Ismi Yati Artiningrum                                                                                     14480152
Siti Rohima Tarihoran                                                                                      14480153
Muslikhah Nur Septianingrum                                                                         14480154



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2014


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Multikulturalisme“ ini dengan tepat waktu.
         Dalam menyusun makalah ini, dengan  kerja keras dan dukungan dosen mata kuliah dan teman-teman, kami berusaha untuk dapat memberikan yang terbaik  dan sesuai harapan, walaupun di dalam pembuatan kami menghadapi kesulitan, karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang kami miliki.
         Oleh karena itu pada kesempatan ini kami ingin megucapkan terima kasih kepada Ibu Dra. Siti Johariyah M. Pd selaku dosen mata kuliah Pengantar Studi Islam, juga kepada teman-teman yang telah memberikan dukungan kepada kami. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik dari teman-teman sangat kami butuhkan untuk menyempurnakan pembuatan makalah di masa-masa yang akan datang. Semoga apa yang kami sajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat untuk teman-teman dan pihak yang lainnya.


                                                                                     
 Yogyakarta, 15 September 2014


                                                                                                         Penyusun

Makalah SKI : Pertumbuhan Kebudayaan Islam Masa Bani Abbasiyah



MAKALAH SKI & BUDAYA LOKAL
Pertumbuhan Kebudayaan Islam Masa Bani Abbasiyah
Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Sejarah Kebudayaan Islam
Dosen Pembimbing: Siti Johariyah


Description: logo_uin.jpg

Disusun oleh:
Achmad Mukhlasin                 (14480135)
Laili Mu’mirotun                     (14480)
Muslikhah Nur S                     (14480154)

 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2014 
KATA PENGANTAR

         Alhamdulillah puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Pertumbuhan Kebudayaan Islam Masa Bani Abbasiyah“ ini dengan tepat waktu.
         Dalam menyusun makalah ini, dengan  kerja keras dan dukungan dosen matakuliah dan teman-teman, kami berusaha untuk dapat memberikan yang terbaik  dan sesuai harapan, walaupun di dalam pembuatan kami menghadapi kesulitan, karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang kami miliki.
         Oleh karena itu pada kesempatan ini kami ingin megucapkan terima kasih kepada Ibu Dra. Siti Johariyah, M.Pd selaku dosen mata kuliah dasar-dasar pembelajaran. Juga kepada teman-teman yang telah memberikan dukungan kepada kami. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik dari teman-teman sangat kami butuhkan untuk menyempurnakan pembuatan makalah dimasa-masa yang akan datang. Semoga apa yang kami sajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat untuk teman-teman dan pihak yang lainnya.


                                                                                     


 Yogyakarta, 23 September 2014


                                                                                                         Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Sejarah merupakan merupakan kejadian-kejadian masa lampau yang bersifat unik, abadi, dan penting. Dalam sejarah kita dapat mengambil banyak pelajaran yang bisa digunakan untuk bekal hidup di masa depan. Namun, sangat disayangkan generasi sekarang banyak yang malas tahu bahkan enggan untuk mempelajari sejarah. Dalam hal ini kita mengutamakan sejarah Islam. Sehingga kita yang hidup pada masa sekarang cenderung berjalan tanpa tujuan atau mengulang masalah-masalah yang terjadi di masa lampau. Di sinilah salah satu peran sejarah untuk menjadi cerminan bahwa pada masa lampau pernah terjadi suatu kejadian yang dapat dijadikan jalan untuk melangkah di hari esok.
Dunia mengakui bahwa Islam pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan dan teknologi terutama bagi bangsa-bangsa berkulit putih. Namun, sangat ironi sekarang malah berbanding terbalik. Bangsa kulit putih merasa berjaya dan berkuasa dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya.
Pada abad pertengahan, negara-negara Islam di Timur Tengah mengalami masa keemasan (Golden Age) di mana pada masa ini terjadi perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Di saat bangsa Eropa sedang pasif dalam bidang keilmuan atau karena dogma-dogma agama, maka peradaban dunia Islam melakukan terjemahan besar-besaran terhadap karya-karya filosof Yunani, dan berbagai temuan dalam bidang ilmiah terutama pada masa Bani Abbasiyah sehingga Islam pada masa itu mengalami puncak kejayaannya yang sering kita sebut sebagai masa keemasan atau Golden Age.




B.     Rumusan Masalah
1.      Pertumbuhan kebudayaan Islam pada masa-masa Bani Abbasiyah.
a.       Kemajuan kebudayaan Islam pada masa Bani Abbasiayah
Ø  Berdirinya Bani Abbasiyyah
Ø  Puncak keemasan
b.      Hubungan Islam dan kebudayaan Persia
Dengan beberapa rumusan masalah tersebut, maka pemakalah akan mencoba menguraikannya. Diharapkan dapat menambah wawasan kita tentang sejarah Islam pada masa silam yang pernah menjadi tolok ukur bebagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. Semoga bermanfaat.










BAB II
PEMBAHASAN

A. Pertumbuhan Kebudayaan Islam Pada Masa-masa Bani Abbasiyah.
1.      Kemajuan kebudayaan Islam pada masa Bani Abbasiyah
a.       Berdirinya Bani Abbasiyyah
Peradaban Islam mengalami kemajuan pada masa Daulah Abbasiyah. Kemajuan peradaban Abbasiyah sebagiannya disebabkan oleh stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi kerajaan ini. Kemajuan itu ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, yang diawali dengan penerjemahan naskah-naskah asing terutama yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, pendirian pusat pengembangan ilmu dan pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berpikir. Terdapat sebab-sebab berdirinya imperium kedua di dunia Islam yang menggantikan Daulah Umayyah ini, yaitu :
1)      Penindasan yang terus-menerus terhadap pengikut Ali dan Bani Hasyim.
2)      Merendahkan kaum Muslimin yang bukan bangsa Arab sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan.
3)      Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara terang-terangan.
4)      Adanya revolusi sosial yang dipelopori oleh para keturunan Abbas yang didukung oleh golongan oposisi terhadap Daulah Umayyah.
b.      Faktor-faktor kemajuan ilmu pengetahuan
1)      Faktor Politik
a)      Pindahnya ibu kota negara dari Syam ke Irak dan Baghdad sebagai ibu kotanya (146 H). Baghdad pada waktu itu merupakan kota yang paling tinggi kebudayaannya.
b)      Banyaknya cendekiawan yang diangkat menjadi pegawai pemerintahan dan istana.
c)      Diakuinya Muktazilah sebagai mazhab resmi negara pada masa khalifah Al Ma’mun pada tahun 827 M. Muktazilah adalah aliran yang menganjurkan kemerdekaan dan kebebasan berpikir kepada manusia.
2)      Faktor Sosiografi
a)       Meningkatnya kemakmuran umat Islam pada waktu itu.
b)      Luasnya wilayah kekuasaan Islam yang menyebabkan banyak orang Romawi dan Persia masuk Islam dan menjadi muslim yang taat. Hal ini menyebabkan perkawinan campuran yang melahirkan keturunan yang tumbuh dengan memadukan kebudayaan kedua orang tuanya.
c)      Pribadi beberapa khalifah pada masa itu sangat mencintai ilmu pengetahuan.
3)      Aktivitas Ilmiah
a)      Penyusunan buku-buku ilmiah
Menurut Syalabi terdapat 3 fase, yaitu :
·        Pencatatan fase pemikiran/hadist/hal-hal lain pada kertas kemudian dirangkap.
·        Pembukuan pemikiran/hadis dalam satu buku.
·        Penyusunan dan pengaturan kembali buku yang telah ada ke dalam pasal-pasal dan bab-bab tertentu.
b)      Penerjemahan
Penerjemahan dari bahasa asing ke bahasa Arab telah dilakukan sejak masa Umayah, namun pada masa itu penerjemahan hanya dilakukan oleh orang-orang yang berkepentingan serta dilakukan terhadap buku-buku yang ada kaitan langsung dengan kehidupan praktis. Pada masa Daulah Abbasiyah, penerjemahan berkembang dengan pesat. Aktivitas penerjemahan mencapai puncaknya pada masa Al Ma’mun.
c)      Pensyarahan
Menjelang abad ke 10 M, kegiatan kaum Muslimin bukan hanya menerjemahkan, bahkan mulai memberikan syarahan (penjelasan) dan melakukan tahqiq (pengeditan).
c.       Puncak keemasaan
Pada masa Al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian, melalui irigasi, dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga, dan besi. Pada masa itu Basrah menjadi pelabuhan yang penting.
Popularitas Bani Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan putranya Al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun Al-Rasyid untuk keperluan sosial seperti: rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan. Pada masanya, sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini .
Pada Periode Pertana Pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasan. Secara politis para kholifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain kemakmuran mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam.
Kami merangkum keberhasilan-keberhasilan Bani Abbasiyyah pada masanya sebagai berikut:
Timbul suatu pertanyaan, mengapa peradaban dan kebudayaan Islam tumbuh dan berkembang bahkan mencapai kejayaannya pada masa Abbasiyah. Hal tersebut dikarenakan Dinasti Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada perluasan wilayah. Di sinilah letak perbedaan pokok antara Bani Abbasiyah dan Bani Umayyah. Akan tetapi tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbasiyah sendiri. Sebagian di antaranya telah dimulai sejak awal kebangkitan Islam, sebagai contoh bahwa dalam bidang pendidikan di awal Islam lembaga pendidikan sudah mulai berkembang.
Gerakan membangun ilmu secara besar-besaran dirintis oleh khalifah Ja’far al-Manshur. Setelah ia mendirikan Baghdad (144 H/762 M.) dan menjadikannya sebagai ibu kota negara. Ia menarik banyak ulama dan para ahli dari berbagai daerah untuk datang dan tinggal di Baghdad. Ia merangsang usaha pembukuan ilmu agama, seperti Fiqh, Tauhid, Tafsir, Hadist, atau ilmu lain seperti Ilmu Bahasa dan Ilmu Sejarah. Akan tetapi yang lebih mendapatkan perhatian adalah penerjemahan buku ilmu yang berasal dari luar.
Perkembangan ilmu naqli mulai disusun dasar perumusannya menjadi ilmu yang kita kenal sekarang . Ilmu-ilmu itu antara lain:
a.       Ilmu Hadits
Pada masa ini hanya merupakan penyempurnaan hadits dari masa sebelumnya, yaitu mulai pada pertengahan ke-3 muncul trend baru yang bisa dikatakan sebagai generasi terbaik sejarah penulisan hadits, yaitu muncul kecenderungan penulisan hadits diduhului oleh tahapan penelitian dan peisahan hadits-hadits shahih dari yang dla'if, sebagaimana yang dilakukan oleh Bukhari (w.256 H.), Muslim (w.261 H.), Ibn Majah (w.273 H.), Abu Dawud (w.275 H.), al-Tirmidzi (w.279 H.), serta al-Nasa'i (w.303 H.)  (Machfud Syaefudin, dkk, 2013: 76).
1)      Ilmu Tasawuf
Ilmu Tasawuf adalah salah satu ilmu yang tumbuh dan matang pada zaman Abbasiyah. Inti ajarannya kepada Allah, meninggalkan kesenangan dan perhiasan dunia, serta bersembunyi diri dan beribadah (Machfud Syaefudin, dkk, 2013: 76).
2)       Ilmu Tafsir
Pada zaman Abbasiyah ilmu tafsir dipisahkan dari ilmu hadits. Kemudian muncul penafsiran bi al-ra'y, di mana penafsiran dilakukan dengan mengedepankan akal. Tafsir pada masa ini ditambah dengan cerita israiliyat. Terakhir muncul penafsiran dengan cara menyebut satu ayat kemudian menerangkan tafsirnya yang diambil dari sahabat dan tabi'in. Tafsir seperti ini yang termasyhur diantaranya tafsir Ibn Jarir al-Thabary.
3)      Ilmu Bahasa Arab
Ilmu Bahasa Arab pada masa ini tumbuh dan berkembang menjadi subur, karena makin dewasa dan menjadi bahasa internasional. Kota Basrah dan Kufah merupakan pusat pertumbuhan dan kegiatan bahasa. Keduanya saling berlomba sehingga terkenal sebutan aliran Basrah, yaitu lebih banyak terpengaruh dengan mantiq, dan aliran Kufah, yaitu golongan yang menjadikan segala yang diturunkan oleh orang Arab sebagai asa yang harus ditiru serta menyusun beberapa kaidah untuknya. Dalam zaman ini diciptakan kitab-kitab yang bernilai dalam ilmu Nahwu, Sharf, Maani, Qamus ilmu manaqat (kumpulan khutbah dan riwayat).
4)      Ilmu Fiqh
Zaman Abbasiyah yang merupakan zaman tamaddun keemasan Islam telah melahirkan ahli-ahli hukum (fuqaha') yang tersohor dalam sejarah Islam dengan kitab-kitab fiqhnya yang terkenal sampai sekarang. Para fuqaha' yang lahir zaman ini terbagi dalam dua aliran, yaitu ahl al-hadits dan ahl al-ra'y.
Usaha penerjemahan dari bahasa Yunani ke bahasa Arab sebenarnya sudah dimulai sejak khalifah al-Umayyah, tetapi usaha besar-besaran dimulai sejak khalifah al-Manshar dari Abbasiyah. Pusat penting tempat penerjemahan adalah Yude Sahpur. Meskipun nanti Baghdad menjadi kota besar dan ibu kota daulah Abbasiyah, namun Yude Sahpur tetap sebagai ibu kota ilmu pengtahuan pertama dalam Islam.
Pada masa al-Ma’mun kemajuan usaha penerjemahan mencapai puncaknya dengan membangun Sekolah Tinggi Penerjemahan di Baghdad, di lengkapi dengan lembaga ilmu yang disebut Bait al-Hikmah, suatu lembaga yang dilengkapi dengan observatorium, perpustakaan, dan lenbaga penerjemahan. Di sinilah orang bisa mengenali Husain bin Ishaq (809-877).
Buku-buku yang diterjemahkan sebagian besar buku karangan Aristoteles, Plato, Neo-Platonisme dan Galen. Para ahli bukan hanya menerjemahkan buku-buku, tetapi mereka juga mengembangkan penelitian dan pemikiran spekulasi dalam batasan-batasan yang tidak bertentangan dengan kebenaran wahyu. Semenjak itu mulailah masa pembentukan ilmu-ilmu Islam dalam bidang akal, yang sering dinamakan abad keemasan yang berlangsung antara 900-1000 M. Ilmu-ilmu yang masuk ke dalam kategori ilmu aqli adalah:
1)      Ilmu Filsafat
Setelah kitab-kitab filsafat Yunani yang diterjemahkan ke bahasa Arab di zaman khalifah Harun ar-Rasyid dan al-Ma'mun, barulah kaum Muslimin sibuk mempelajari ilmu filsafat, bahkan menafsirkan dan mengadakan perubahan serta perbaikan sesuai dengan ajaran Islam, sehingga lahirlah para filsuf Islam yang kemudian menjadi bintang dunia filsafat seperti, al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd (Machfud Syaefudin, dkk, 2013: 78).
2)      Ilmu Kedokteran
Minat orang Arab terhadap ilmu kedokteran diilhami oleh hadits Nabi yang membagi pengetahuan ke dalam dua kelompok , teologi dan kedokteran. Pada tahun 765 M, khalifah memerintahkan Girgis Buchtyishu untuk menerjemahkan buku-buku dari bahasa Yunani ke bahasa Arab. Ilmu kedokteran pada saat itu masih merupakan bagian dari ilmu filsafat.
3)      Ilmu Astronomi
Penulisan ilmu astronomi dimulai sejak diterjemahkannya buku-buku Sidharta dari Bahasa India ke Bahasa Arab, yang diterjemahkan oleh Muhammad ibn Ibrahim al-Fazari, yang digunakan sebagai acuan oleh para sarjana belakangan. Sebelumnya karya Ptolemius, Almagest, disusul karya yang lebih unggul yaitu karya al-Hajjaj ibn Mathar yang selesai ditulis pada 212 H./827-828 M. dan karya Hunayn ibn Ishaq yang direvisi oleh Tsabit ibn Qurrah (w.901 M.)  (Machfud Syaefudin, dkk, 2013: 79).
4)      Ilmu Hitung
Angka Arab pada mulanya diperkenalkan oleh Sidharta dari India, yang bekerja di masjid al-Manshur sebagai seorang ahli Astronomi. Sudah barang tentu sistem perangkaan sudah dipergunakan di India, di mana terjemahan ini membantu terkenalnya sistem perangkaan di dunia Arab. Angka dari India itu disebut ragam al-Hindi, terdiri dari angka 1, 2, 3, 4, 5, kemudian oleh Khuwarizmi diciptakan angka 6, 7, 8, 9, dan 0 yang dinamakan shirf atau kosong. meskipun orang Arab menamakan nol dengan kosong atau shirf, tetapi ia adalah tanda angka yang penting (Machfud Syaefudin, dkk, 2013: 80).
5)      Ilmu Kimia
Di dalam studi-studi tentang ilmu kimia dan hitung, sarjana-sarjana Muslim memperkenalkan cara penelitian objektif yang menentukan terhadap spekulasi yang membingungkan bagi orang-orang Yunani. Mereka teliti sekali dalam mengobservasi gejala-gejala dan tekun dalam mengumpulkan fakta-fakta.
6)      Ilmu Sejarah dan Geografi
Pada periode Abbasiyah, Ilmu Sejarah telah matang untuk melahirkan karya formal berdasarkan atas legenda, tradisi, biografi, geneologi, dan narasi. Model ini ditulis dalam bahasa Persia dan diwakili oleh karya berbahasa Pahlavi, Khudzay-namah (buku tentang para raja), yang diterjamahkan ke dalam bahasa Arab oleh Ibnu al-Muqaff (w.757 M.) dengan judul Siyar Muluk al-'Ajm (Machfud Syaefudin, dkk, 2013: 81).
Dalam Ilmu Geografi, Ibnu Khurdasbah, yang hidup di awal abad III dan telah meninggalkan buku Geografi al-Msalik wa al-Mamalik, dipandang sebagai ahli Geografi Islam terdahulu yang menjadi pedoman bagi pelaut yang menjelajahi lautan. Ilmu Geografi terjadi karena hubungan kota Baghdad dengan ibu kota negara lain, baik hubungan darat ataupun laut, seperti India, Ceylon, Malaya, Indonesia, Cina, Korea, dan sebelah barat ke Afrika dan Eropa
B.  Hubungan Islam dan Kebudayaan Persia
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Ibnu Khaldun, ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab.
1.      Sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu.
2.      Orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ashabiyah (kesukuan). Dengan demikian, khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ashabiyah tradisional.
Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam).
Hubungan Islam dengan Persia yang lain adalah pada masa Khalifah  Al-Mansyur, demi menjaga stabilitas negara memindahkan ibu kota Negara ke Bagdad. Dengan demikian pusat pemerintahan Bani Abasiyah berada di tengah-tengah bangsa Persia. Al-Mansyur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif.
Sumbangsih yang tidak kalah penting Bangsa Persia terhadap perkembangan Islam pada masa itu juga terjadi pada sektor pemerintahan. Terjadinya Asimilasi antara bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam ilmu pengetahuan. Selain itu mereka banyak berjasa dalam perkembangan ilmu filsafat dan sastra.
Dari semua ulasan di atas, kami sebagai pemakalah menyimpulkan bahwa pengaruh atau hubungan Persia dan kebudayaan Islam dipengaruhi oleh dua faktor yaitu pembentukan lembaga wizaroh dan pemindahan ibukota.
samy dan tempat lahirnya Islam.




BAB III
PENUTUP

            Demikianlah kemajuan budaya pada masa Bani Abbasiyah yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik, kemajuan yang tidak ada tandingannya pada masa itu. Pada masa Bani Abbasiyah ini, kemajuan peradaban dan kebudayaan berjalan seiring dengan kemajuan di bidang politik sehingga Islam mencapai masa keemasan, kejayaan, dan kegemilangan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan Bani Abbasiyah periode pertama.
            Kebudayaan Persia sedikit banyak memberikan andil yang cukup menonjol dalam mendukung kejayaan Islam pada masa itu terutama pada bidang politik, ilmu pengetahuan, dan yang pasti adalah kebudayaan.










DAFTAR PUSTAKA

Mustansyir, Rizal & Misnal Munir. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Yatim, Badri.2004.Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Abdurrahman, Dudung. 2003. Sejarah Peradaban Islam: Dari Klasik Hingga Modern. Yogyakarta: Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga & LESFI Yogyakarta
Carl Brockelmann.1982.History of the Islamic Peoples, (London: Routledge & Kegan Paul)
Malik, Maman A.2005.Sejarah Kebudayaan Islam.(Yogyakarta:Pokja Akademik)

 
;