MAKALAH SKI & BUDAYA LOKAL
Pertumbuhan Kebudayaan Islam Masa Bani Abbasiyah
Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Sejarah
Kebudayaan Islam
Dosen Pembimbing: Siti Johariyah

Disusun oleh:
Achmad Mukhlasin (14480135)
Laili Mu’mirotun
(14480)
Muslikhah Nur S (14480154)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU
MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji dan syukur kehadirat
Allah SWT yang telah memberikan Rahmat-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Pertumbuhan
Kebudayaan Islam Masa Bani Abbasiyah“ ini dengan tepat waktu.
Dalam menyusun makalah ini, dengan kerja keras dan dukungan dosen matakuliah dan
teman-teman, kami berusaha untuk dapat
memberikan yang terbaik dan sesuai
harapan, walaupun di dalam pembuatan kami menghadapi kesulitan, karena keterbatasan
ilmu pengetahuan dan keterampilan yang kami miliki.
Oleh karena itu pada kesempatan ini kami ingin megucapkan terima kasih kepada Ibu Dra. Siti Johariyah, M.Pd selaku dosen mata kuliah dasar-dasar pembelajaran. Juga kepada
teman-teman yang telah memberikan dukungan kepada kami. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kekurangan,
oleh karena itu saran dan kritik dari teman-teman sangat kami butuhkan untuk menyempurnakan pembuatan
makalah dimasa-masa yang akan datang. Semoga apa yang kami sajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat
untuk teman-teman dan pihak yang lainnya.
Yogyakarta, 23 September 2014
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejarah merupakan merupakan
kejadian-kejadian masa lampau yang bersifat unik, abadi, dan penting. Dalam
sejarah kita dapat mengambil banyak pelajaran yang bisa digunakan untuk bekal
hidup di masa depan. Namun, sangat disayangkan generasi sekarang banyak yang
malas tahu bahkan enggan untuk mempelajari sejarah. Dalam hal ini kita
mengutamakan sejarah Islam. Sehingga kita yang hidup pada masa sekarang
cenderung berjalan tanpa tujuan atau mengulang masalah-masalah yang terjadi di
masa lampau. Di sinilah salah satu peran sejarah untuk menjadi cerminan bahwa
pada masa lampau pernah terjadi suatu kejadian yang dapat dijadikan jalan untuk
melangkah di hari esok.
Dunia mengakui bahwa Islam pernah
menjadi kiblat ilmu pengetahuan dan teknologi terutama bagi bangsa-bangsa
berkulit putih. Namun, sangat ironi sekarang malah berbanding terbalik. Bangsa
kulit putih merasa berjaya dan berkuasa dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya.
Pada abad pertengahan, negara-negara
Islam di Timur Tengah mengalami masa keemasan (Golden Age) di mana pada
masa ini terjadi perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Di saat
bangsa Eropa sedang pasif dalam bidang keilmuan atau karena dogma-dogma agama,
maka peradaban dunia Islam melakukan terjemahan besar-besaran terhadap
karya-karya filosof Yunani, dan berbagai temuan dalam bidang
ilmiah terutama pada masa Bani Abbasiyah sehingga Islam pada masa itu
mengalami puncak kejayaannya yang sering kita sebut sebagai masa keemasan
atau Golden Age.
B. Rumusan Masalah
1.
Pertumbuhan kebudayaan Islam pada masa-masa Bani Abbasiyah.
a.
Kemajuan kebudayaan Islam pada masa Bani Abbasiayah
Ø Berdirinya Bani Abbasiyyah
Ø Puncak keemasan
b.
Hubungan Islam dan kebudayaan Persia
Dengan beberapa rumusan masalah
tersebut, maka pemakalah akan mencoba menguraikannya. Diharapkan dapat menambah
wawasan kita tentang sejarah Islam pada masa silam yang pernah menjadi tolok
ukur bebagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. Semoga bermanfaat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pertumbuhan Kebudayaan Islam Pada Masa-masa Bani Abbasiyah.
1.
Kemajuan kebudayaan Islam pada masa Bani Abbasiyah
a.
Berdirinya Bani Abbasiyyah
Peradaban Islam
mengalami kemajuan pada masa Daulah Abbasiyah. Kemajuan peradaban Abbasiyah
sebagiannya disebabkan oleh stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi kerajaan
ini. Kemajuan itu ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, yang diawali
dengan penerjemahan naskah-naskah asing terutama yang berbahasa Yunani ke dalam
bahasa Arab, pendirian pusat pengembangan ilmu dan pengetahuan dan keagamaan
sebagai buah dari kebebasan berpikir. Terdapat sebab-sebab berdirinya imperium
kedua di dunia Islam yang menggantikan Daulah Umayyah ini, yaitu :
1) Penindasan yang terus-menerus terhadap
pengikut Ali dan Bani Hasyim.
2)
Merendahkan kaum Muslimin yang bukan bangsa Arab sehingga mereka tidak
diberi kesempatan dalam pemerintahan.
3)
Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara
terang-terangan.
4)
Adanya revolusi sosial yang dipelopori oleh para keturunan Abbas yang
didukung oleh golongan oposisi terhadap Daulah Umayyah.
b. Faktor-faktor kemajuan ilmu pengetahuan
1)
Faktor Politik
a)
Pindahnya ibu kota negara dari Syam ke Irak dan Baghdad sebagai ibu kotanya
(146 H). Baghdad pada waktu itu merupakan kota yang paling tinggi
kebudayaannya.
b)
Banyaknya cendekiawan yang diangkat menjadi pegawai pemerintahan dan
istana.
c)
Diakuinya Muktazilah sebagai mazhab resmi negara pada masa khalifah Al
Ma’mun pada tahun 827 M. Muktazilah adalah aliran yang menganjurkan kemerdekaan
dan kebebasan berpikir kepada manusia.
2)
Faktor Sosiografi
a)
Meningkatnya kemakmuran umat Islam
pada waktu itu.
b)
Luasnya wilayah kekuasaan Islam yang menyebabkan banyak orang Romawi dan
Persia masuk Islam dan menjadi muslim yang taat. Hal ini menyebabkan perkawinan
campuran yang melahirkan keturunan yang tumbuh dengan memadukan kebudayaan
kedua orang tuanya.
c)
Pribadi beberapa khalifah pada masa itu sangat mencintai ilmu pengetahuan.
3)
Aktivitas Ilmiah
a)
Penyusunan buku-buku ilmiah
Menurut Syalabi
terdapat 3 fase, yaitu :
·
Pencatatan fase pemikiran/hadist/hal-hal lain pada kertas kemudian
dirangkap.
·
Pembukuan pemikiran/hadis dalam satu buku.
·
Penyusunan dan pengaturan kembali buku yang telah ada ke dalam pasal-pasal
dan bab-bab tertentu.
b) Penerjemahan
Penerjemahan dari
bahasa asing ke bahasa Arab telah dilakukan sejak masa Umayah, namun pada masa
itu penerjemahan hanya dilakukan oleh orang-orang yang berkepentingan serta
dilakukan terhadap buku-buku yang ada kaitan langsung dengan kehidupan praktis.
Pada masa Daulah Abbasiyah, penerjemahan berkembang dengan pesat. Aktivitas
penerjemahan mencapai puncaknya pada masa Al Ma’mun.
c) Pensyarahan
Menjelang abad ke 10
M, kegiatan kaum Muslimin bukan hanya menerjemahkan, bahkan mulai memberikan
syarahan (penjelasan) dan melakukan tahqiq (pengeditan).
c. Puncak keemasaan
Pada masa Al-Mahdi
perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian, melalui
irigasi, dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga, dan
besi. Pada masa itu Basrah menjadi pelabuhan yang penting.
Popularitas Bani
Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan
putranya Al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun
Al-Rasyid untuk keperluan sosial seperti: rumah sakit, lembaga pendidikan
dokter, dan farmasi didirikan. Pada masanya, sudah terdapat paling tidak
sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga
dibangun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah
ini .
Pada Periode Pertana
Pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasan. Secara politis para
kholifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan
agama sekaligus. Di sisi lain kemakmuran mencapai tingkat tertinggi. Periode
ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu
pengetahuan dalam Islam.
Kami merangkum keberhasilan-keberhasilan
Bani Abbasiyyah pada masanya sebagai berikut:
Timbul suatu
pertanyaan, mengapa peradaban dan kebudayaan Islam tumbuh dan berkembang bahkan
mencapai kejayaannya pada masa Abbasiyah. Hal tersebut dikarenakan Dinasti
Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan
kebudayaan Islam dari pada perluasan wilayah. Di sinilah letak perbedaan pokok
antara Bani Abbasiyah dan Bani Umayyah. Akan tetapi tidak berarti seluruhnya
berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbasiyah sendiri. Sebagian di antaranya
telah dimulai sejak awal kebangkitan Islam, sebagai contoh bahwa dalam bidang
pendidikan di awal Islam lembaga pendidikan sudah mulai berkembang.
Gerakan membangun ilmu
secara besar-besaran dirintis oleh khalifah Ja’far al-Manshur. Setelah ia
mendirikan Baghdad (144 H/762 M.) dan menjadikannya sebagai ibu kota negara. Ia
menarik banyak ulama dan para ahli dari berbagai daerah untuk datang dan
tinggal di Baghdad. Ia merangsang usaha pembukuan ilmu agama, seperti Fiqh,
Tauhid, Tafsir, Hadist, atau ilmu lain seperti Ilmu Bahasa dan Ilmu Sejarah.
Akan tetapi yang lebih mendapatkan perhatian adalah penerjemahan buku ilmu yang
berasal dari luar.
Perkembangan
ilmu naqli mulai disusun dasar perumusannya menjadi ilmu yang
kita kenal sekarang . Ilmu-ilmu itu antara lain:
a. Ilmu Hadits
Pada masa ini hanya
merupakan penyempurnaan hadits dari masa sebelumnya, yaitu mulai pada
pertengahan ke-3 muncul trend baru yang bisa dikatakan sebagai
generasi terbaik sejarah penulisan hadits, yaitu muncul kecenderungan penulisan
hadits diduhului oleh tahapan penelitian dan peisahan hadits-hadits shahih dari
yang dla'if, sebagaimana yang dilakukan oleh Bukhari (w.256 H.),
Muslim (w.261 H.), Ibn Majah (w.273 H.), Abu Dawud (w.275 H.), al-Tirmidzi (w.279
H.), serta al-Nasa'i (w.303 H.) (Machfud Syaefudin, dkk, 2013: 76).
1)
Ilmu Tasawuf
Ilmu Tasawuf adalah
salah satu ilmu yang tumbuh dan matang pada zaman Abbasiyah. Inti ajarannya
kepada Allah, meninggalkan kesenangan dan perhiasan dunia, serta bersembunyi
diri dan beribadah (Machfud Syaefudin, dkk, 2013: 76).
2)
Ilmu Tafsir
Pada zaman Abbasiyah
ilmu tafsir dipisahkan dari ilmu hadits. Kemudian muncul penafsiran bi
al-ra'y, di mana penafsiran dilakukan dengan mengedepankan akal. Tafsir
pada masa ini ditambah dengan cerita israiliyat. Terakhir muncul penafsiran
dengan cara menyebut satu ayat kemudian menerangkan tafsirnya yang diambil dari
sahabat dan tabi'in. Tafsir seperti ini yang termasyhur diantaranya tafsir Ibn
Jarir al-Thabary.
3)
Ilmu Bahasa Arab
Ilmu Bahasa Arab pada
masa ini tumbuh dan berkembang menjadi subur, karena makin dewasa dan menjadi
bahasa internasional. Kota Basrah dan Kufah merupakan pusat pertumbuhan dan
kegiatan bahasa. Keduanya saling berlomba sehingga terkenal sebutan aliran
Basrah, yaitu lebih banyak terpengaruh dengan mantiq, dan
aliran Kufah, yaitu golongan yang menjadikan segala yang diturunkan oleh orang
Arab sebagai asa yang harus ditiru serta menyusun beberapa kaidah untuknya.
Dalam zaman ini diciptakan kitab-kitab yang bernilai dalam ilmu Nahwu, Sharf, Maani,
Qamus ilmu manaqat (kumpulan khutbah dan riwayat).
4)
Ilmu Fiqh
Zaman Abbasiyah yang
merupakan zaman tamaddun keemasan Islam telah melahirkan
ahli-ahli hukum (fuqaha') yang tersohor dalam sejarah Islam dengan
kitab-kitab fiqhnya yang terkenal sampai sekarang. Para fuqaha' yang
lahir zaman ini terbagi dalam dua aliran, yaitu ahl al-hadits dan ahl
al-ra'y.
Usaha penerjemahan
dari bahasa Yunani ke bahasa Arab sebenarnya sudah dimulai sejak khalifah
al-Umayyah, tetapi usaha besar-besaran dimulai sejak khalifah al-Manshar dari
Abbasiyah. Pusat penting tempat penerjemahan adalah Yude Sahpur. Meskipun nanti
Baghdad menjadi kota besar dan ibu kota daulah Abbasiyah, namun Yude Sahpur
tetap sebagai ibu kota ilmu pengtahuan pertama dalam Islam.
Pada masa al-Ma’mun
kemajuan usaha penerjemahan mencapai puncaknya dengan membangun Sekolah Tinggi
Penerjemahan di Baghdad, di lengkapi dengan lembaga ilmu yang disebut Bait
al-Hikmah, suatu lembaga yang dilengkapi dengan observatorium, perpustakaan,
dan lenbaga penerjemahan. Di sinilah orang bisa mengenali Husain bin Ishaq (809-877).
Buku-buku yang
diterjemahkan sebagian besar buku karangan Aristoteles, Plato, Neo-Platonisme dan
Galen. Para ahli bukan hanya menerjemahkan buku-buku, tetapi mereka juga mengembangkan
penelitian dan pemikiran spekulasi dalam batasan-batasan yang tidak
bertentangan dengan kebenaran wahyu. Semenjak itu mulailah masa pembentukan
ilmu-ilmu Islam dalam bidang akal, yang sering dinamakan abad keemasan yang
berlangsung antara 900-1000 M. Ilmu-ilmu yang masuk ke dalam kategori
ilmu aqli adalah:
1)
Ilmu Filsafat
Setelah kitab-kitab
filsafat Yunani yang diterjemahkan ke bahasa Arab di zaman khalifah Harun
ar-Rasyid dan al-Ma'mun, barulah kaum Muslimin sibuk mempelajari ilmu filsafat,
bahkan menafsirkan dan mengadakan perubahan serta perbaikan sesuai dengan
ajaran Islam, sehingga lahirlah para filsuf Islam yang kemudian menjadi bintang
dunia filsafat seperti, al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali, dan Ibnu
Rusyd (Machfud Syaefudin, dkk, 2013: 78).
2)
Ilmu Kedokteran
Minat orang Arab
terhadap ilmu kedokteran diilhami oleh hadits Nabi yang membagi pengetahuan ke
dalam dua kelompok , teologi dan kedokteran. Pada tahun 765 M, khalifah
memerintahkan Girgis Buchtyishu untuk menerjemahkan buku-buku dari bahasa
Yunani ke bahasa Arab. Ilmu kedokteran pada saat itu masih merupakan bagian
dari ilmu filsafat.
3)
Ilmu Astronomi
Penulisan ilmu
astronomi dimulai sejak diterjemahkannya buku-buku Sidharta dari Bahasa India
ke Bahasa Arab, yang diterjemahkan oleh Muhammad ibn Ibrahim al-Fazari, yang
digunakan sebagai acuan oleh para sarjana belakangan. Sebelumnya karya
Ptolemius, Almagest, disusul karya yang lebih unggul yaitu
karya al-Hajjaj ibn Mathar yang selesai ditulis pada 212 H./827-828 M. dan
karya Hunayn ibn Ishaq yang direvisi oleh Tsabit ibn Qurrah (w.901
M.) (Machfud Syaefudin, dkk, 2013: 79).
4)
Ilmu Hitung
Angka Arab pada
mulanya diperkenalkan oleh Sidharta dari India, yang bekerja di masjid
al-Manshur sebagai seorang ahli Astronomi. Sudah barang tentu sistem perangkaan
sudah dipergunakan di India, di mana terjemahan ini membantu terkenalnya sistem
perangkaan di dunia Arab. Angka dari India itu disebut ragam al-Hindi, terdiri
dari angka 1, 2, 3, 4, 5, kemudian oleh Khuwarizmi diciptakan angka 6, 7, 8, 9,
dan 0 yang dinamakan shirf atau kosong. meskipun orang Arab
menamakan nol dengan kosong atau shirf, tetapi ia adalah tanda
angka yang penting (Machfud Syaefudin, dkk, 2013: 80).
5)
Ilmu Kimia
Di dalam studi-studi
tentang ilmu kimia dan hitung, sarjana-sarjana Muslim memperkenalkan cara
penelitian objektif yang menentukan terhadap spekulasi yang membingungkan bagi
orang-orang Yunani. Mereka teliti sekali dalam mengobservasi gejala-gejala dan
tekun dalam mengumpulkan fakta-fakta.
6)
Ilmu Sejarah dan Geografi
Pada periode
Abbasiyah, Ilmu Sejarah telah matang untuk melahirkan karya formal berdasarkan
atas legenda, tradisi, biografi, geneologi, dan narasi. Model ini ditulis dalam
bahasa Persia dan diwakili oleh karya berbahasa Pahlavi, Khudzay-namah (buku
tentang para raja), yang diterjamahkan ke dalam bahasa Arab oleh Ibnu al-Muqaff
(w.757 M.) dengan judul Siyar Muluk al-'Ajm (Machfud
Syaefudin, dkk, 2013: 81).
Dalam Ilmu Geografi,
Ibnu Khurdasbah, yang hidup di awal abad III dan telah meninggalkan buku
Geografi al-Msalik wa al-Mamalik, dipandang sebagai ahli Geografi
Islam terdahulu yang menjadi pedoman bagi pelaut yang menjelajahi lautan. Ilmu
Geografi terjadi karena hubungan kota Baghdad dengan ibu kota negara lain, baik
hubungan darat ataupun laut, seperti India, Ceylon, Malaya, Indonesia, Cina,
Korea, dan sebelah barat ke Afrika dan Eropa
B. Hubungan Islam dan Kebudayaan Persia
Khilafah Abbasiyah
didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada
masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah
berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Ibnu Khaldun, ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada
orang-orang Arab.
1. Sulit bagi orang-orang Arab untuk
melupakan Bani Umayyah. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu.
2. Orang-orang Arab sendiri terpecah belah
dengan adanya ashabiyah (kesukuan). Dengan demikian, khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas
ashabiyah tradisional.
Meskipun demikian,
orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan
raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa
darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka
menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam).
Hubungan Islam dengan
Persia yang lain adalah pada masa Khalifah Al-Mansyur, demi menjaga
stabilitas negara memindahkan ibu kota Negara ke Bagdad. Dengan demikian pusat
pemerintahan Bani Abasiyah berada di tengah-tengah bangsa Persia. Al-Mansyur
melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah
personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif.
Sumbangsih yang tidak
kalah penting Bangsa Persia terhadap perkembangan Islam pada masa itu juga
terjadi pada sektor pemerintahan. Terjadinya Asimilasi antara bangsa Arab dan
bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam ilmu
pengetahuan. Selain itu mereka banyak berjasa dalam perkembangan ilmu filsafat
dan sastra.
Dari semua ulasan di
atas, kami sebagai pemakalah menyimpulkan bahwa pengaruh atau hubungan Persia
dan kebudayaan Islam dipengaruhi oleh dua faktor yaitu pembentukan lembaga
wizaroh dan pemindahan ibukota.
samy dan tempat lahirnya Islam.
samy dan tempat lahirnya Islam.
BAB III
PENUTUP
Demikianlah kemajuan budaya pada masa
Bani Abbasiyah yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik,
kemajuan yang tidak ada tandingannya pada masa itu. Pada masa Bani Abbasiyah
ini, kemajuan peradaban dan kebudayaan berjalan seiring dengan kemajuan di
bidang politik sehingga Islam mencapai masa keemasan, kejayaan, dan
kegemilangan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan
Bani Abbasiyah periode pertama.
Kebudayaan
Persia sedikit banyak memberikan andil yang cukup menonjol dalam mendukung
kejayaan Islam pada masa itu terutama pada bidang politik, ilmu pengetahuan,
dan yang pasti adalah kebudayaan.
DAFTAR PUSTAKA
Mustansyir, Rizal & Misnal Munir. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Yatim, Badri.2004.Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada
Abdurrahman, Dudung. 2003. Sejarah Peradaban Islam: Dari Klasik
Hingga Modern. Yogyakarta: Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga
& LESFI Yogyakarta
Carl Brockelmann.1982.History of the Islamic Peoples, (London:
Routledge & Kegan Paul)
Malik, Maman A.2005.Sejarah
Kebudayaan Islam.(Yogyakarta:Pokja Akademik)
0 komentar:
Posting Komentar
Berikan tanggapanmu :)