LAPORAN
KUNJUNGAN MUSEUM

Nama kelompok :
Adi Citra.R.
Exq Cumala
Luri Astuti
Muslikhah Nur.S.
Nia Widyaastuti
Kelas : X MM
SMK
N 3 YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2010
YOGYAKARTA
2010
Kata Pengantar
Segala
puji syukur kami panjatkan kepada Allah Yang Maha Kuasa, atas berkah, rahmat
dan karunianya kami dapat menyelesaikan Laporan kunjungan Museum yang telah
dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 28 September 2010.
Penyusunan makalah ini berguna untuk melengkapi tugas.
Dengan terselesainya tugas ini maka penulis mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesakan laporan ini, sehingga laporan ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya.
Meski kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh
dari sempurna, oleh karena itu kami mohon maaf
dan penulis sangatlah mengharapkan kritik dan sarannya
demi kesempurnaan tugas ini.
Dan yang terakhir semoga laporan
ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
. Yogyakarta, 5 Oktober 2010
Penyusun,
1.BENTENG VREDEBURG
Benteng Vredeburg
Yogyakarta berdiri terkait erat dengat lahirnya Kasultanan Yogyakarta.
Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 yang berhasil menyelesaikan perseteruan
antara Susuhunan Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan
Hamengkubuwono I) adalah merupakan hasil politik Belanda yang selalu ingin ikut
campur urusan dalam negeri Raja-raja Jawa pada waktu itu. Orang Belanda yang
berperan penting dalam lahirnya Perjanjian Giyanti adalah Nicolaas Harting yang
menjabat sebagai Gubernur dari Direktur Pantai Utara Jawa (Gouveurneur en
Directuer van Java’s noordkust) sejak bulan Maret 1754. Pada hakekatnya
perjanjian tersebut adalah perwujudan dari usaha untuk membelah Kerajaan
Mataram menjadi dua bagian, yaitu Kasuhunan Surakarta dan Kasultanan
Yogyakarta.
Selanjutnya Kasultanan Yogyakarta
diperintah oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan
Hamengkubuwono Senopati Ing Alogo Abdul Rachman Sayidin Panata Gama
Khalifatullah I. Sedangkan Kasuhunan Surakarta diperintah oleh Paku Buwono III.
Langkah pertama yang diambil oleh Sri Sultan HB I adalah segera memerintahkan membangun kraton. Dengan titah tersebut segera dibuka hutan beringin dimana ditempat tersebut sudah terdapat dusun Pacetokan. Sri Sultan HB I mengumumkan bahwa wilayah yang menjadi daerah kekuasaannya tersebut diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dengan ibukota Ngayogyakarta.
Langkah pertama yang diambil oleh Sri Sultan HB I adalah segera memerintahkan membangun kraton. Dengan titah tersebut segera dibuka hutan beringin dimana ditempat tersebut sudah terdapat dusun Pacetokan. Sri Sultan HB I mengumumkan bahwa wilayah yang menjadi daerah kekuasaannya tersebut diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dengan ibukota Ngayogyakarta.
Selain sebagai Panglima Perang yang
tangguh Sri Sultan HB I adalah juga seorang ahli bangunan yang hebat. Kraton
Kasultanan Yogyakarta pertama dibangun pada tanggal 9 Oktober 1755 dan pada
hari Kamis Pahing 7 Oktober 1756 meski belum selesai secara sempurna Sultan dan
keluarganya berkenan untuk menempatinya.
Setelah Kraton mulai ditempati kemudian beridiri pula bangunan-bangunan pendukung lainnya, misalnya bangunan kediaman Sultan dan kerabat dekatnya dinamakan Prabayeksa, selesai dibangun tahun 1756. Bangunan Sitihinggil dan Pagelaran yang selesai pada tahun 1757. Gapura penghubung Dana Pertapa dan Kemagangan selesai pada tahun 1761 dan 1762.
Setelah Kraton mulai ditempati kemudian beridiri pula bangunan-bangunan pendukung lainnya, misalnya bangunan kediaman Sultan dan kerabat dekatnya dinamakan Prabayeksa, selesai dibangun tahun 1756. Bangunan Sitihinggil dan Pagelaran yang selesai pada tahun 1757. Gapura penghubung Dana Pertapa dan Kemagangan selesai pada tahun 1761 dan 1762.
Masjid Agung
didirikan pada tahun 1771. Benteng besar yang mengelilingi kraton selesai pada
tahun 1777. Dan akhirnya Bangsal Kencana selesai pada tahun 1792.Melihat
kemajuan yang sangat pesat akan pembangunan kraton yang didirikan Sri Sultan HB
I menimbulkan rasa kekhawatiran pada pihak Belanda sehingga diajukanlah usul
untuk membangun sebuah benteng disekitar wilayah kraton. Dalih yang digunakan
adalah agar Belanda dapat menjaga keamanan kraton dan sekitarnya. Akan tetapi
maksud sesungguhnya Belanda adalah untuk memudahkan melakukan kontrol
perkembangan yang terjadi di kraton. Hal ini bisa dilihat dari letak benteng
yang hanya satu jarak tembak meriam dari kraton dan lokasinya menghadap ke
jalan utama menuju kraton merupakan indikasi utama bahwa fungsi benteng dapat
dimanfaatkan sebagai benteng strategi, intimidasi, penyerangan dan blokade.
Dapat dikatakan bahwa beridirinya benteng tersebut dimaksudkan untuk
berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu Sultan memalingkan muka memusuhi Belanda.
Besarnya kekuatan dibalik kontrak politik yang dilahirkan dalam setiap
perjanjian dengan pihak Belanda seakan-akan menjadi ‘kekuatan’ yang sulit
dilawan oleh pemimpin pribumi pada masa kolonial Belanda termasuk Sri Sultan HB
I, oleh karena itu usulan pembangunan benteng dikabulkan.
Sebelum dibangun
benteng pada lokasinya yang sekarang, pada tahun 1760, atas permintaan Belanda,
Sri Sultan HB I telah membangun sebuah benteng yang sangat sederhana berbentuk
bujur sangkar. Keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut sebagai
seleka atau bastion yang menyerupai bentuk kura-kura dengan keempat kakinya.
Oleh Sultan keempat sudut tersebut diberi nama Jayawisesa (sudut barat laut),
Jayapurusa (sudut timur laut), Jayaprakosaning (sudut barat daya) dan Jayaprayitna
(sudut tenggara).
Menurut Nicolas Harting, benteng tersebut keadaannya masih sangat sederhana. Temboknya terbuat dari tanah yang diperkuat dengan tiang-tiang penyangga dari kayu pohon kelapa dan aren, sedangkan bangunan didalamnya terdiri atas bambu dan kaui dengan atap ilalang.
Ketika Nicolas Harting digantikan oleh W.H Ossenberch pada tahun 1765, diusulkan kepada Sultan agar benteng diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen agar lebih menjamin keamanan. Usul tersebut dikabulkan dan selanjutnya pembangunan benteng dikerjakan dibawah pengawasan seorang Belanda ahli ilmu bangunan yang bernama Ir. Frans Haak. Tahun 1767 pembangunan benteng dimulai. Konstruksi-nya menggunakan semen merah, gamping, pasir dan batu bata. Menurut rencana pembangunannya akan selesai pada tahun itu juga tetapi pada kenyataannya proses pembangunan berjalan sangat lambat dan baru selesai pada tahun 1787, hal ini karena pada masa tersebut Sultan juga sedang giat-giatnya melakukan pembangunan Kraton Yogyakarta sehingga bahan dan tenaga yang dijanjikan lebih banyak teralokasi untuk pembangunan kraton. Setelah selesai bangunan benteng yang telah disempurnakan tersebut diberi nama Benteng Rustenburg yang berarti “Benteng Peristirahatan”.
Pada tahun 1867 di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga banyak merubuhkan bangunan-bangunan antara lain Gedung Residen, Tugu Pal Putih dan Benteng Rustenburg serta bangunan-bangunan lain. Seluruh bangunan-bangunan tersebut segera dibangun kembali. Untuk Benteng Rustenburg segera diadakan pembenahan di beberapa bagian bangunan yang rusak. Setelah selesai dibangun kembali, nama Benteng Rustenburg berganti menjadi “Benteng Vredeburg” yang artinya “Benteng Perdamaian”. Nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dan Belanda yang tidak saling menyerang pada waktu itu.
Bentuk benteng tetap seperti awal dibangun, yaitu bujur sangkar. Pada keempat sudutnya dibangun ruang penjagaan yang disebut “seleka” atau “bastion”. Pintu gerbang benteng menghadap ke barat dengan dikelilingi oleh parit. Didalamnya terdapat bangunan-bangunan seperti rumah perwira, asrama prajurit, gudang logistik, gudang mesiu, rumah sakit prajurit dan rumah residen. Penghuni benteng sendiri pada waktu itu mencapai 500 orang prajurit termasuk petugas medis dan para medis.
Pada masa pemerintahan Belanda, benteng ini juga memiliki fungsi sebagai tempat perlindungan para residen yang sedang bertugas di Yogyakarta karena kantor residen letaknya berseberangan dengan letak Benteng Vredeburg.
Seiring dengan perkembangan politik di Indonesia maka status kepemilikan Benteng Vredeburg juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pada awal berdirinya benteng ini adalah milik Kraton walaupun dalam penggunaannya dihibahkan kepada Belanda (VOC). Kebangkrutan VOC pada periode 1788-1799 menyebabkan penguasaan benteng diambil alih oleh Bataafsche Republic (Pemerintah Belanda) dibawah Gubernur Van Den Burg sampai ke pemerintahan Gubernur Daendels. Ketika Inggris berkuasa maka benteng dibawah penguasaan Gubernur Jenderal Raffles. Status benteng sempat kembali ke pemerintahan Belanda sampai menyerahnya Belanda kepada Jepang di bulan Maret 1942.
Pada tanggal 9 Agustus 1980 dengan persetujuan Sri Sultan HB IX Benteng Vredeburg dijadikan sebagai Pusat Informasi dan Pengembangan Budaya Nusantara dan pada tanggal 16 April 1985 dilakukan pemugaran untuk dijadikan Museum Perjuangan. Museum ini dibuka untuk umum pada tahun 1987. Tanggap 23 November 1992 Benteng Vredeburg resmi menjadi “Museum Perjuangan Nasional” dengan nama “Museum Benteng Vredeburg”
Karena telah difungsikan sebagai museum modern, Benteng Vredeburg memiliki koleksi lengkap meliputi koleksi bangunan, koleksi realia, koleksi foto termasuk miniatur dan replika serta koleksi lukisan. Selain itu terdapat pula 4 ruang pameran minirama sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Menurut Nicolas Harting, benteng tersebut keadaannya masih sangat sederhana. Temboknya terbuat dari tanah yang diperkuat dengan tiang-tiang penyangga dari kayu pohon kelapa dan aren, sedangkan bangunan didalamnya terdiri atas bambu dan kaui dengan atap ilalang.
Ketika Nicolas Harting digantikan oleh W.H Ossenberch pada tahun 1765, diusulkan kepada Sultan agar benteng diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen agar lebih menjamin keamanan. Usul tersebut dikabulkan dan selanjutnya pembangunan benteng dikerjakan dibawah pengawasan seorang Belanda ahli ilmu bangunan yang bernama Ir. Frans Haak. Tahun 1767 pembangunan benteng dimulai. Konstruksi-nya menggunakan semen merah, gamping, pasir dan batu bata. Menurut rencana pembangunannya akan selesai pada tahun itu juga tetapi pada kenyataannya proses pembangunan berjalan sangat lambat dan baru selesai pada tahun 1787, hal ini karena pada masa tersebut Sultan juga sedang giat-giatnya melakukan pembangunan Kraton Yogyakarta sehingga bahan dan tenaga yang dijanjikan lebih banyak teralokasi untuk pembangunan kraton. Setelah selesai bangunan benteng yang telah disempurnakan tersebut diberi nama Benteng Rustenburg yang berarti “Benteng Peristirahatan”.
Pada tahun 1867 di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga banyak merubuhkan bangunan-bangunan antara lain Gedung Residen, Tugu Pal Putih dan Benteng Rustenburg serta bangunan-bangunan lain. Seluruh bangunan-bangunan tersebut segera dibangun kembali. Untuk Benteng Rustenburg segera diadakan pembenahan di beberapa bagian bangunan yang rusak. Setelah selesai dibangun kembali, nama Benteng Rustenburg berganti menjadi “Benteng Vredeburg” yang artinya “Benteng Perdamaian”. Nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dan Belanda yang tidak saling menyerang pada waktu itu.
Bentuk benteng tetap seperti awal dibangun, yaitu bujur sangkar. Pada keempat sudutnya dibangun ruang penjagaan yang disebut “seleka” atau “bastion”. Pintu gerbang benteng menghadap ke barat dengan dikelilingi oleh parit. Didalamnya terdapat bangunan-bangunan seperti rumah perwira, asrama prajurit, gudang logistik, gudang mesiu, rumah sakit prajurit dan rumah residen. Penghuni benteng sendiri pada waktu itu mencapai 500 orang prajurit termasuk petugas medis dan para medis.
Pada masa pemerintahan Belanda, benteng ini juga memiliki fungsi sebagai tempat perlindungan para residen yang sedang bertugas di Yogyakarta karena kantor residen letaknya berseberangan dengan letak Benteng Vredeburg.
Seiring dengan perkembangan politik di Indonesia maka status kepemilikan Benteng Vredeburg juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pada awal berdirinya benteng ini adalah milik Kraton walaupun dalam penggunaannya dihibahkan kepada Belanda (VOC). Kebangkrutan VOC pada periode 1788-1799 menyebabkan penguasaan benteng diambil alih oleh Bataafsche Republic (Pemerintah Belanda) dibawah Gubernur Van Den Burg sampai ke pemerintahan Gubernur Daendels. Ketika Inggris berkuasa maka benteng dibawah penguasaan Gubernur Jenderal Raffles. Status benteng sempat kembali ke pemerintahan Belanda sampai menyerahnya Belanda kepada Jepang di bulan Maret 1942.
Pada tanggal 9 Agustus 1980 dengan persetujuan Sri Sultan HB IX Benteng Vredeburg dijadikan sebagai Pusat Informasi dan Pengembangan Budaya Nusantara dan pada tanggal 16 April 1985 dilakukan pemugaran untuk dijadikan Museum Perjuangan. Museum ini dibuka untuk umum pada tahun 1987. Tanggap 23 November 1992 Benteng Vredeburg resmi menjadi “Museum Perjuangan Nasional” dengan nama “Museum Benteng Vredeburg”
Karena telah difungsikan sebagai museum modern, Benteng Vredeburg memiliki koleksi lengkap meliputi koleksi bangunan, koleksi realia, koleksi foto termasuk miniatur dan replika serta koleksi lukisan. Selain itu terdapat pula 4 ruang pameran minirama sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
2. GEDUNG AGUNG
Istana kepresidenan
Yogyakarta awalnya adalah rumah kediaman resmi residen Ke-18 di Yogyakarta
(1823-1825). Ia seorang Belanda bernama Anthonie Hendriks Smissaert, yang
sekaligus merupakan penggagas atau pemrakarsa pembangunan Gedung Agung ini.
Gedung ini didirikan pada bulan Mei 1824 di masa penjajahan Belanda. Ini
berawal dari keinginan adanya "istana" yang berwibawa bagi
residen-residen Belanda. Arsiteknya bernama A. Payen dia ditunjuk oleh Gubernur
Jenderal Hindia Belanda pada masa itu. Gaya bangunannya mengikuti arsitektur
Eropa yang disesuaikan dengan iklim tropis.
Pecahnya Perang
Diponogero (1825-1830), yang oleh Belanda disebut Perang Jawa, mengakibatkan
pembangunan gedung jadi tertunda. Musibah / gempa bumi terjadi dua kali pada
hari yang sama, menyebabkan tempat kediaman resmi residen Belanda itu runtuh.
Namun bangunan baru didirikan dan rampung pada tahun 1869. Bangunan inilah yang
menjadi Gedung Induk Kompleks Istana Kepresidenan Yogyakarta, yang kini disebut
Gedung Negara.
Sejarah juga mencatat
bahwa pada tanggal 19 Desember 1927, status administratif wilayah Yogyakarta
sebagai karesidenan ditingkatkan menjadi provinsi. Penguasa tertinggi Belanda
bukan lagi residen, melainkan gubernur. Dengan demikian, gedung utama yang
selesai dibangun pada 1869 tersebut menjadi kediaman para gubernur Belanda di
Yogyakarta hingga masuknya pendudukan Jepang. Beberapa Gubernur Belanda yang
mendiami gedung tersebut adalah J.E Jasper (1926-1927), P.R.W van Gesseler
Verschuur (1929-1932), H.M de Kock (1932-1935), J. Bijlevel (1935-1940), serta
L Adam (1940-1942). Pada masa pendudukan Jepang, istana ini menjadi kediaman
resmi penguasa Jepang di Yogyakarta, yaitu Koochi Zimmukyoku Tyookan.
Riwayat Gedung Agung
itu menjadi sangat penting dan sangat berarti tatkala pemerintahan Republik
Indonesia hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta. Pada tanggal 6 Januari 1946,
Yogyakarta yang mendapat julukan Kota Gudeg tersebut resmi menjadi ibukota baru
Republik Indonesia yang masih muda, dan istana itu pun berubah menjadi Istana
Kepresidenan sebagai kediaman Presiden Soekarno, Presiden I Republik Indonesia,
beserta keluarganya. Sementara Wakil Presiden Mohammad Hatta dan keluarga
ketika itu tinggal di gedung yang sekarang ditempati Korem 072 / Pamungkas,
yang tidak jauh dari kompleks istana.
Sejak itu, riwayat
istana (terutama fungsi dan perannya) berubah. Pelantikan Jenderal Soedirman
sebagai Panglima Besar TNI (pada tanggal 3 Juni 1947), diikuti pelantikan
sebagai Pucuk Pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia (pada tanggal 3 Juli
1947), serta lima Kabinet Rebulik yang masih muda itu pun dibentuk dan dilantik
di Istana ini pula.
Pada hari Minggu
tanggal 19 Desember 1948, Yogyakarta digempur oleh tentara Belanda di bawah
kepemimpinan Jenderal Spoor. Peristiwa yang dikenal dengan Agresi Militer II
itu mengakibatkan Presiden, Wakil Presiden, Perdana Menteri, beserta beberapa
pembesar lainnya diasingkan ke luar Pulau Jawa, tepatnya ke Brastagi dan Bangka,
dan baru kembali ke Yogyakarta pada tanggal 6 Juli 1949. Mulai tanggal
tersebut, istana kembali berfungsi sebagai tempat kediaman resmi Presiden.
Namun, sejak tanggal 28 Desember 1949, yaitu dengan berpindahnya Presiden ke
Jakarta, istana ini tidak lagi menjadi kediaman Presiden.
Sebuah peristiwa
sejarah yang tidak dapat diabaikan adalah fungsi Gedung Agung pada awalnya
berdirinya Republik Indonesia (tanggal 3 Juni 1947). Pada saat itu Gedung Agung
berfungsi sebagai tempat pelantikan Jenderal Soedirman, selaku Panglima Besar
Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selain itu, selama tiga tahun (1946-1949),
gedung ini berfungsi sebagai tempat kediaman resmi Presiden I Republik
Indonesia.
Setelah kemerdekaan
Indonesia, tepatnya pada masa dinas Presiden II RI, sejak tanggal 17 April
1988, Istana Kepresidenan Yogyakarta/Gedung Agung juga digunakan untuk
penyelenggaraan Upacara Taruna-taruna Akabri Udara yang Baru, dan sekaligus
Acara Perpisahan Para Perwira Muda yang Baru Lulus dengan Gubernur dan
masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan, sejak tanggal 17 Agustus 1991,
secara resmi Istana Kepresidenan Yogyakarta / Gedung Agung digunakan sebagai
tempat memperingati Detik-Detik Proklamasi untuk Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sejalan dengan
fungsinya kini, lebih dari 65 kepala negara dan kepala pemerintahan dan
tamu-tamu negara, telah berkunjung atau bermalam di Gedung Agung itu. Tamu
negara yang pertama berkunjung ke gedung itu adalah Presiden Rajendra Prasad
dari India (1958). Pada tahun enam puluhan, Raja Bhumibol Adulyajed dari
Muangthai (1960) dan Presiden Ayub Khan dari Pakistan (1960) berkunjung dan
bermalam di gedung ini. Setahun kemudian (1961), tamu negara itu adalah Perdana
Menteri Ferhart Abbas dari Aljazair. Pada tahun tujuh puluhan, yang berkunjung adalah
Presiden D. Macapagal dari Filipina (1971), Ratu Elizabeth II dari Inggris
(1974), serta Perdana Menteri Srimavo Bandaranaike dari Sri Langka (1976).
Kemudian, pada tahun
delapan puluhan, tamu negara itu adalah Perdana Menteri Lee Kuan Yeuw dari Singapura
(1980), Yang Dipertuan Sultan Bolkiah dari Brunei Darussalam (1984). Tamu-tamu
penting lain yang pernah beristirahat di Gedung Agung, antara lain, Putri
Sirindhom dari Muanghthai (1984), Ny. Marlin Quayle, Isteri Wakil Presiden
Amerika Serikat (1984), Presiden F. Mitterand dari Perancis (1988), Pangeran
Charles bersama Putri Diana dari Inggris (1989), dan Kepala Gereja Katolik Paus
Paulus Johannes II (1989).
Pada tahun sembilan
puluhan, para tamu agung yang berkunjung ke Gedung Agung itu adalah Yang Dipertuan
Agung Sultan Azlan Shah dari Malaysia (1990), Kaisar Akihito Jepang (1991), dan
Putri Basma dari Yordania (1996).
Istana Kepresidenan
Yogyakarta terletak di ujung selatan jalan Akhmad Yani, Kelurahan Ngupasan,
Kecamatan Gondomanan, Kotamadya Yogyakarta. Kompleks Istana yang berada pada
ketinggian 120 meter dpl. ini dibangun di atas lahan seluas 43.585 M2. Terletak
di pusat keramaian kota, jantung kota Yogyakarta, menghadap ke timur
berseberangan dengan Museum Benteng Vredeburg, bekas benteng belanda.
Istana kepresidenan
Yogyakarta dikenal juga dengan nama Gedung Agung atau Gedung Negara. Penamaan
itu berkaitan dengan salah satu fungsi gedung utama istana, yaitu sebagai
tempat penerimaan tamu-tamu agung. Istana ini merupakan salah satu istana dari
keempat istana kepresidenan lainnya, yang memiliki peran amat penting dalam
sejarah perjuangan kemerdekaan dan kehidupan bangsa Indonesia.
Secara umum, proses
pengembangan bagian-bagian Istana Kepresidenan Yogyakarta tidak banyak berubah,
baik dari gedung induknya: Gedung Agung, juga wisma -wismanya seperti Wisma
Negara, Wisma Indraphrasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretawu, dan Wisma
Saptapratala.
Selain keempat wisma
tersebut, sejak 20 September 1995, kompleks Seni Sono seluas 5.600 meter
persegi yang terletak di sebelah selatan, yang semula milik Departemen
Penerangan, kini menjadi bagian dari Istana Kepresidenan Yogyakarta. Cukup
lumayan dilakukan penataan ulang terhadap istana ini; contohnya Ruang Kesenian
direnovasi, kursi-kursi dan lampu hiasnya diganti. Dari segi perabot /
perlengkapan tampak kesesuaian antara fungsi kamar / ruang dengan perabotan /
peralatan yang mengisinya, bahkan termasuk benda - benda seni bernilai tinggi
yang ada di dalamnya.
Sejak didirikan dua
abad yang lalu hingga kini, Gedung Induk kompleks Istana Kepresidenan
Yogyakarta tidak pernah berubah; bentuknya sama seperti ketika selesai dibangun
pada tahun 1869. Ruangan Induknya disebut Ruang Garuda dan berfungsi sebagai
ruang resmi penyambutan tamu negara atau tamu agung yang lain. Di ruangan ini
pulalah kabinet Republik Indonesia dilantik tatkala ibu kota negara pindah ke
Yogyakarta. Pada dinding ruangan yang bersejarah ini tergantung gambar-gambar
pahlawan nasional, di antaranya adalah gambar Pangeran Diponegoro, R.A. Kartini,
Dokter Wahidin Soedirohusodo, dan Tengku Cik Di Tiro.
Di sisi selatan
Gedung Induk terdapat Ruangan Tidur Presiden beserta keluarga, sedangkan di
sisi utara terdapat kamar tidur yang disediakan bagi Wakil Presiden beserta
keluarga, dan bagi tamu negara atau tamu agung yang lain beserta keluarga.
Di bagian depan kanan
Gedung Induk terdapat ruangan yang diberi nama Ruang Soerdiman untuk mengenang
perjuangan Panglima Besar Soedirman dalam memimpin gerilya melawan Belanda. Di
ruangan inilah dulu Panglima Besar Soedirman mohon diri kepada Presiden
Soekarno, untuk meninggalkan kota dalam rangka memimpin perang gerilya melawan
Belanda. Di bagian kiri gedung utama terdapat ruangan yang diberi nama Ruang
Diponegoro, untuk mengenang perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda.
Dalam ruangan ini tampak pula lukisan / foto beliau sedang berkuda.
Dari Ruang Garuda ke
arah belakang terdapat ruangan besar yang lain, yaitu Ruangan Jamuan Makan,
tempat jamuan makan bagi tamu negara atau tamu agung yang lain. Di belakang
ruangan jamuan makan terdapat ruangan luas, yang berfungsi sebagai Ruangan
Pertunjukan Kesenian.
Masih tentang
bangunan-bangunan yang ada di Istana Yoyakarta ini, bangunan lain adalah Wisma
Negara; wisma ini dibangun pada tahun 1980. Wisma ini dimaksudkan untuk para
menteri dan rombongan tamu negara. Bangunan ini bertingkat dua dan mempunyai 19
kamar. Setiap kamarnya dihiasi dengan lukisan serta benda seni lain yang sesuai
dengan fungsi-fungsi kamarnya, terutama untuk beristirahat.
Selain Wisma Negara,
terdapat Wisma Indraphrasta. Wisma ini merupakan wujud bangunan asli kantor
Asisten Residen Belanda, penggagas bangunan yang kini menjadi istana ini. Di
kiri dan kanan belakang bangunan utama, di dekat Ruang Kesenian, adalah Wisma
Sawojajar dan Wisma Bumiretawu. Wisma Sawojajar,di sebelah utara, disediakan
bagi petugas atau rombongan staf Presiden atau tamu negara, sedangkan Wisma
Bumiretawu disediakan bagi ajudan serta dokter pribadi Presiden atau ajudan dan
dokter pribadi tamu negara. Wisma Saptapratala terletak di sebelah selatan,
berseberangan dengan Wisma Bumiretawu . Wisma ini disediakan bagi
petugas-petugas dan para anggota rombongan presiden atau tamu negara.
Kompleks Seni Sono
mulai dipugar tahun 1995 dan terdiri dari gedung auditorium, gedung tempat
penyimpanan koleksi benda-benda seni, gedung pameran dan perkantoran.
Auditorium ini semula adalah gedung Seni Sono yang dibangun pada tahun 1915 dan
diperuntukkan sebagai tempat pertunjukkan kesenian terpilih yang berkaitan
dengan acara kenegaraan. Gedung yang diperuntukkan sebagai tempat penyimpanan
koleksi benda-benda seni semula adalah bangunan kuno yang dibangun Belanda pada
tahun 1911 dan terakhir digunakan sebagai kantor PWI / Antara. Bangunan yang
diperuntukkan gedung pameran dan perkantoran semula adalah bangunan Kantor
Departemen Penerangan.
Biasanya, Pintu
Gerbang Utama Kompleks Istana Yogyakarta "dijaga" oleh dua buah
patung besar Dwarapala yang juga disebut Gupala, masing-masing setinggi dua
meter. Kedua patung ini berasal dari salah satu tempat di sebelah selatan Candi
Kalasan. Di halaman istana, di depan Gedung Induk, tampak sebuah monumen yang
terbuat dari batu andesit setinggi 3.5 meter; namanya Dagoba, yang berasal dari
Desa Cupuwatu, di dekat Candi Prambanan. Orang Yogyakarta menyebutnya Tugu
Lilin karena Tampak seperti lilin yang senantiasa menyala, melambangkan
kerukunan beragama, yaitu agama Hindu Ciwa dan agama Budha: agama Hindu Ciwa
dilambangkan dengan Lingga, yang menopang stupa sebagai lambang agama Budha.
0 komentar:
Posting Komentar
Berikan tanggapanmu :)