Kita saling
menyakiti bahkan dalam diam. Kita tidak perlu untuk mengucapkan kata-kata, mata
kita sudah penuh dengan rasa sakit. Mungkin itu adalah cinta. Mungkin itu
nafsu. Dan mungkin apa yang paling menyakitkan adalah harapan yang tinggi. Cara
kita saling menyakiti hanya untuk menunjukkan betapa kita saling mencintai itu
melelahkan, bukan? Kenangan memudar seiring berjalan atau perginya waktu, begitu
saja, tanpa jejak. Tapi kita selalu ingat bagaimana sakitnya. Aku menyakitimu. Kamu
lebih menyakitiku. Kemudian kita mengucapkan selamat tinggal ketika semua yang
kita ingin katakan adalah 'maafkan aku'. Ego telah mendarat.
Aku ingin
mengatakan 'tetaplah tinggal' tapi kata-kata itu membeku di otakku,
meninggalkan pertanyaan: apa yang kita lakukan salah? Mungkin kamu tidak akan
pernah tahu bahwa ... aku jatuh tanpa henti. Aku jatuh putus asa. Dan kamu
tidak ada di sana untuk menangkapku.
Ketika kamu
memelukku, rasanya seperti aku akan selalu baik-baik saja. Sekarang ketika kamu
pergi, rasanya tidak akan pernah baik-baik saja. Sebagai contoh, aku tidak
pernah bisa mendengarkan Michael Buble lagi. Home-nya itu menyakitiku terlalu
banyak karena kamu bukanlah rumahku lagi. Dan kau tahu apa? Aku tidak pernah
sendirian. Tidak ketika pikiran tentangmu selalu menghantuiku. Aku tidak pernah
sendirian, tapi aku kesepian. Jika hanya dengan 'i love you' sudah cukup, kita
tidak perlu takut malam. Kegelapan itu menakutkan ketika kamu kesepian.
Kadang-kadang,
berkali-kali ketika larut malam, pikiran ini terlintas dalam pikiranku, bahwa
cinta kita seperti rokok yang terbakar. Itu tidak berlangsung lama, dan penuh
dengan racun. Aku kecanduan. Dan ketika aku bilang aku kecanduan kamu, itu
berarti aku kecanduan untuk mencintai dan rasa sakit yang terbawa. Bahkan daun
jatuh mengingatkanku kepada kita. Kita adalah daun itu. Kering dan jatuh putus
asa, tak terelakkan.
Dan tentu
aku mencoba untuk berlari. Tapi setiap lintasan dan jalan yang aku lalui, selalu
membawaku kembali ke pikiran tentangmu. Aku melakukan perjalanan untuk
melupakan kita. Tapi setiap kota aku pergi, aku hanya bisa membayangkan berbagi
pandangan denganmu, sambil memegang tanganmu. Setiap jalan, setiap lintasan,
setiap kedai kopi mengingatkan aku padamu. Aku bersembunyi di dalam hatiku, dan
kamu pun berada di sana. Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Kau bahagia dengan
dia dibandingkan denganku. Itu membuatku berpikir bahwa aku tidak berharga sepeser
pun. Dan, aku ingat bagaimana kita berbicara tentang masa depan kita bersama.
Kita sering melakukannya. Sekarang kau bicara tentang masa depan dengan orang
lain.
Aku
menyaksikan matahari terbenam di lain hari, dan aku ingat ketika kamu berbisik
lembut di telingaku, bahwa kau mencintaiku. Kau ingat bagaimana kita bertengkar
ketika aku melemparkan handukku di mana-mana? Aku melakukannya lagi, berharap
kau akan memarahiku. Kenapa kau tidak membawa serta cintamu saat kau pergi? Mengapa
kamu harus meninggalkannya di sini dan aku terluka karenanya? Tidak. Itu salah.
Kita saling menorehkan luka. Kita saling membuat tangis. Kita adalah dua orang
bodoh yang jatuh cinta. Betapa aku berharap kita masih ada. Dan mungkin kamu
sudah tahu ini: Sebelum kamu, penyembuhan patah hati itu semudah satu dua tiga.
Kamu tidak
perlu membenciku untuk apa yang telah kulakukan. Aku melakukannya sekarang.
Hatiku tidak rusak. Hatiku sudah tidak ada lagi. Kamu membawanya bersamamu
ketika kamu pergi. Aku kosong. Aku pernah ada di sana. Kau bahkan tidak peduli.
Setidaknya aku ada di sana, dan aku melihat wajahmu. Dan itu sudah cukup. Kalau
saja aku bisa membaca pikiranmu, mungkin aku bisa membuatmu tetap tinggal.
Satu-satunya pertanyaan yang bergem dalam pikiranku sekarang adalah: mengapa
kita menyakiti seseorang yang paling kita pedulikan? Tidak ada yang memiliki
jawabannya.
Bisakah kita
memutar waktu kembali? Aku ingin membekukan waktu saat kamu sedang tersenyum
padaku. Atau jika aku lari ke dinding dan memukul kepalaku dengan sangat keras,
akankah itu bisa menghilangkan rasa sakit karena kehilanganmu? Lihatlah betapa
menyedihkan aku sekarang. Aku menangis. Tidak, aku tidak menangis karena aku begitu
merindukanmu. Aku menangis karena aku diam-diam berharap air mata akan
membersihkan rasa sakit ini.
Kamu pernah
mengatakan bahwa 'kau dan aku melawan dunia, oke?' Tebak apa? Sekarang aku
sendirian melawan dunia.
Adapted from amrazing.com
0 komentar:
Posting Komentar
Berikan tanggapanmu :)