Pages

Rabu, 15 Januari 2014

Kopi di Pagi Hari

Pagi ini sungguh pagi yang nyaman. Dengan suara hujan yang damai dan udara yang beraroma segar, yang membuatku enggan beranjak dari rumah, bahkan untuk sekolah. Pagi ini kunikmati dengan segelas kopi hangat. Kucecap kopiku perlahan-lahan. Entah kenapa rasanya.. hambar. Tak sesempurna biasanya. Tapi tetap saja kunikmati pelan-pelan.

Aku menatap hujan, yang entah kenapa seolah enggan untuk berhenti. Menciptakan musik alami yang merasuki pikiran dan memaksa untuk mengingat kenangan. Aku pun tersenyum, kunikmati kenangan yang menjejali pikiranku. Kenangan tentang seseorang..

Aku mengingat dia.


Dia, yang selama satu setengah tahun ini selalu mewarnai hariku. Dengan canda dan tawa, serta air mata. Mataku terpejam. Membayangkan sebuah akhir perjalananku dengannya.

Ya, aku dan dia sudah berakhir. Berakhir dengan sebuah makian yang saling terlontar. Tapi entah mengapa.. aku tidak menangis. Meski aku tahu, mungkin dia membenciku. Yah, mungkin. Walaupun sepertinya dia nampak biasa saja. Masih bisa tertawa bersama teman-temannya. Syukurlah..

Aku tak pernah menyesal bertemu dengannya, lalu jatuh cinta padanya. Karena bersamanya, aku belajar menjadi dewasa. Karena bersamanya, aku tidak perlu menjadi sempurna. Karena bersamanya, aku bahagia. Hanya dengan melihatnya tersenyum, membuatku ingin sekali memeluknya. Aku bersyukur pernah memilikinya.

hanya dengan mengingatnya saja, aku tersenyum bahagia. Mengingat tatapan matanya, kecupan bibirnya, pelukannya, pegangan tangannya saat kami berjalan bersama. Ah, rasanya aku rindu saat-saat itu, saat aku dan dia saling melepas rindu. Yah, semua tentangnya adalah bahagiaku. Ya, bahagia memang sederhana.

Sayangnya, menyatukan dua insan manusia tidak sesederhana itu. Tidak jarang aku dan dia berselisih paham, saling meninggikan ego dan gengsi yang sulit dikalahkan. Sehingga, cinta pun terkadang dikesampingkan, pengertian yang semakin lama semakin pudar, rasa percaya yang semakin lama semakin sirna, dan waktu yang entah mengapa menjadi tak ada. Dan yang tersisa, hanyalah kesepian.. Sehingga, berpisah mungkin menjadi pilihan terbaik untuk saat ini..

Aku tak berani berharap menjadi wanitanya suatu saat nanti, karena aku tak sanggup untuk kecewa. Hanya satu yang selalu kuinginkan darinya, yaitu kebahagiannya. Terkadang, orang memang ditakdirkan untuk saling mencintai, tapi tidak untuk saling memiliki. Mungkin aku dan dia termasuk di antaranya..

Kupandang tetes air hujan yang semakin jarang. Kutatap langit yang kian lama semakin cerah. Seperti itulah hidup. Mungkin sekarang aku sedang berada di titik gelap, tapi suatu saat nanti mentari pasti akan datang.. Aku tahu pasti Tuhan tahu yang terbaik untukku. Ya, hanya Tuhan yang tahu, apakah dia bisa menjadi sosok mentariku suatu saat nanti atau bukan.

Kuhisap kopiku yang tinggal sedikit itu, merasakan aromanya yang begitu nikmat. Hmm, mungkin dia serupa kopi. Pahit, namun hadirnya selalu kucari untuk menyempurnakan pagi. Mungkin aku hanya perlu menambahkan sedikit gula supaya manis yang akan ku rasa.. Mungkin aku harus menikmatinya dengan cara yang agak berbeda, supaya pahit itu berganti dengan manis. Ah tidak, aku suka dia yang apa adanya.

Sial, ternyata aku masih mencintainya...

Segera kuhabiskan sisa kopiku pagi itu. Menutup pintu dan kembali ke kamarku. Ya, aku harus melupakannya. Agar aku dan dia, tak lagi bersemayam dalam luka yang tumbuh karena cinta... Agar senyumnya tak lagi hilang tertelan air mata. Agar aku dan dia, bisa lagi saling menyapa tanpa menyimpan rasa dan harapan di dada.

Ya, aku harus melupakannya, demi kebahagiaanku dan kebahagiannya. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untukku dan dia.

Tapi untuk saat ini, aku ingin menikmati hujan yang kian lama kian hilang. Menikmati kenangan tentangnya. Untuk saat ini, aku ingin menikmati saat-saat aku mencintainya..

Kopiku sudah habis, nikmatnya pun mengikis. Mungkin itu bedanya dia dan kopi. Ketika dia hilang, aku masih bisa menikmatinya, menikmati kenangan yang indah bersamanya. Ya, nikmatnya takkan pernah hilang meskipun dia tak ada, tak seperti kopi yang terlupa di kala hadirnya tak lagi ada.

Ah, aku memang mencintainya. Selamat tinggal cinta...

Yogyakarta, 15 Januari 2014.

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapanmu :)

 
;