Pagi
ini sungguh pagi yang nyaman. Dengan suara hujan yang damai dan udara yang
beraroma segar, yang membuatku enggan beranjak dari rumah, bahkan untuk
sekolah. Pagi ini kunikmati dengan segelas kopi hangat. Kucecap kopiku
perlahan-lahan. Entah kenapa rasanya.. hambar. Tak sesempurna biasanya. Tapi tetap
saja kunikmati pelan-pelan.
Aku
menatap hujan, yang entah kenapa seolah enggan untuk berhenti. Menciptakan musik
alami yang merasuki pikiran dan memaksa untuk mengingat kenangan. Aku pun
tersenyum, kunikmati kenangan yang menjejali pikiranku. Kenangan tentang
seseorang..
Aku
mengingat dia.
Dia,
yang selama satu setengah tahun ini selalu mewarnai hariku. Dengan canda dan
tawa, serta air mata. Mataku terpejam. Membayangkan sebuah akhir perjalananku
dengannya.
Ya,
aku dan dia sudah berakhir. Berakhir dengan sebuah makian yang saling
terlontar. Tapi entah mengapa.. aku tidak menangis. Meski aku tahu, mungkin dia
membenciku. Yah, mungkin. Walaupun sepertinya dia nampak biasa saja. Masih bisa
tertawa bersama teman-temannya. Syukurlah..
Aku
tak pernah menyesal bertemu dengannya, lalu jatuh cinta padanya. Karena bersamanya,
aku belajar menjadi dewasa. Karena bersamanya, aku tidak perlu menjadi
sempurna. Karena bersamanya, aku bahagia. Hanya dengan melihatnya tersenyum,
membuatku ingin sekali memeluknya. Aku bersyukur pernah memilikinya.
hanya
dengan mengingatnya saja, aku tersenyum bahagia. Mengingat tatapan matanya,
kecupan bibirnya, pelukannya, pegangan tangannya saat kami berjalan bersama. Ah,
rasanya aku rindu saat-saat itu, saat aku dan dia saling melepas rindu. Yah, semua
tentangnya adalah bahagiaku. Ya, bahagia memang sederhana.
Sayangnya,
menyatukan dua insan manusia tidak sesederhana itu. Tidak jarang aku dan dia
berselisih paham, saling meninggikan ego dan gengsi yang sulit dikalahkan. Sehingga,
cinta pun terkadang dikesampingkan, pengertian yang semakin lama semakin pudar,
rasa percaya yang semakin lama semakin sirna, dan waktu yang entah mengapa
menjadi tak ada. Dan yang tersisa, hanyalah kesepian.. Sehingga, berpisah
mungkin menjadi pilihan terbaik untuk saat ini..
Aku
tak berani berharap menjadi wanitanya suatu saat nanti, karena aku tak sanggup
untuk kecewa. Hanya satu yang selalu kuinginkan darinya, yaitu kebahagiannya.
Terkadang, orang memang ditakdirkan untuk saling mencintai, tapi tidak untuk
saling memiliki. Mungkin aku dan dia termasuk di antaranya..
Kupandang
tetes air hujan yang semakin jarang. Kutatap langit yang kian lama semakin
cerah. Seperti itulah hidup. Mungkin sekarang aku sedang berada di titik gelap,
tapi suatu saat nanti mentari pasti akan datang.. Aku tahu pasti Tuhan tahu
yang terbaik untukku. Ya, hanya Tuhan yang tahu, apakah dia bisa menjadi sosok
mentariku suatu saat nanti atau bukan.
Kuhisap
kopiku yang tinggal sedikit itu, merasakan aromanya yang begitu nikmat. Hmm,
mungkin dia serupa kopi. Pahit, namun hadirnya selalu kucari untuk menyempurnakan
pagi. Mungkin aku hanya perlu menambahkan sedikit gula supaya manis yang akan
ku rasa.. Mungkin aku harus menikmatinya dengan cara yang agak berbeda, supaya
pahit itu berganti dengan manis. Ah tidak, aku suka dia yang apa adanya.
Sial,
ternyata aku masih mencintainya...
Segera
kuhabiskan sisa kopiku pagi itu. Menutup pintu dan kembali ke kamarku. Ya, aku
harus melupakannya. Agar aku dan dia, tak lagi bersemayam dalam luka yang
tumbuh karena cinta... Agar senyumnya tak lagi hilang tertelan air mata. Agar
aku dan dia, bisa lagi saling menyapa tanpa menyimpan rasa dan harapan di dada.
Ya,
aku harus melupakannya, demi kebahagiaanku dan kebahagiannya. Semoga Tuhan
memberikan yang terbaik untukku dan dia.
Tapi
untuk saat ini, aku ingin menikmati hujan yang kian lama kian hilang. Menikmati
kenangan tentangnya. Untuk saat ini, aku ingin menikmati saat-saat aku
mencintainya..
Kopiku
sudah habis, nikmatnya pun mengikis. Mungkin itu bedanya dia dan kopi. Ketika
dia hilang, aku masih bisa menikmatinya, menikmati kenangan yang indah
bersamanya. Ya, nikmatnya takkan pernah hilang meskipun dia tak ada, tak
seperti kopi yang terlupa di kala hadirnya tak lagi ada.
Ah,
aku memang mencintainya. Selamat tinggal cinta...
Yogyakarta,
15 Januari 2014.
0 komentar:
Posting Komentar
Berikan tanggapanmu :)