Iri.
3 huruf. Simple. Tetapi maknanya tidak sesimple itu. 3 huruf itu mungkin saja
menghancurkan segalanya jika tidak bisa dikendalikan dengan benar.
Pasti
pernah kan ya ngerasa iri sama orang, munafik lah kalo bilang nggak pernah. Sudahlah
akui saja, mengakui kesalahan itu bukanlah hal yang memalukan.
1
kata sarat makna. Iri.
Aku
sedang mengalaminya. Entah apa yang terjadi pada diriku sekarang. Aku ngerasa
jadi orang paling malang. Setidaknya di antara orang-orang yang aku kenal.
Aku
Cuma cewek biasa, bahkan mungkin terlalu biasa, tak mempunyai kelebihan apapun.
Mungkin juga tak memiliki kebahagiaan, hahaha. miris sekali kan? aku bahkan Cuma
bisa menertawai takdir, tanpa bisa melakukan perubahan. Siapalah aku ini,
manusia nggak berarti. :)
Aku
ingin jadi mereka, mereka yang biisa bahagia tanpa banyak menyimpan luka. Mereka
yang bisa tertawa tanpa perlu berpura-pura. Aku ingin jadi seperti mereka!
Memang.
Orang bilang menjadi diri sendiri adalah hal yang terbaik. Aku berusaha tampil
apa adanya tanpa perlu berpura-pura. Aku kira semua orang bisa menerima diriku
yang seperti ini. Tapi ternyata, hidup tidak sesimple itu.
Aku
ingin jadi mereka. Mereka yang mempunyai tubuh ideal tanpa perlu repot-repot
diet. mereka yang cantik jelita, dengan lekuk dan detail tubuh yang tanpa cela.
Mereka yang bisa mengerjakan soal tanpa kesulitan, dan begitu mudah mencapai
apa yang mereka inginkan. Mereka yang bisa membeli barang apapun tanpa harus
menunggu, berwisata ke sana kemari tanpa perlu memikirkan dana, yang mempunyai
banyak gadget canggih tanpa perlu mengkhawatirkan masa depan yang membutuhkan
banyak biaya.
Aku
ingin jadi mereka. Mereka yang hidupnya dilimpahi kasih sayang dan dukungan
dari keluarga, yang selalu meluangkan waktunya hanya untuk sekedar berkumpul
menghabiskan waktu bersama. Mereka yang memiliki orang-orang istimewa yang
selalu ada di kala suka dan duka, tak hanya ketika butuh saja, mereka yang
memiliki sahabat sebagai penyemangat. Mereka yang memiliki banyak teman untuk
saling berbagi canda, menghabiskan waktu dalam tawa, menertawai segala
kebodohan yang telah mereka lakukan, tanpa saling melihat kekurangan lainnya.
Aku
ingin jadi mereka, yang memiliki sosok pendamping yang membuat mereka menjadi
sempurna, pendamping yang bisa menutupi kekurangannya, pendamping yang membuat
mereka mempunyai pandangan masa depan terindah yang menjadi tujuan mereka. Pendamping
di saat tawa hadir, maupun di saat air mata mengalir. Pendamping yang membuat
mereka tak takut untuk bermimpi.
Aku
ingin jadi mereka....
Hahaha.
lagi-lagi aku menertawai takdir, menertawai diriku sendiri. Bagaimana mungkin
aku bisa seperti mereka!!
Tuhan,
mengapa aku tidak seberuntung mereka?
0 komentar:
Posting Komentar
Berikan tanggapanmu :)